Dunia di luar sana riuh, tapi terasa kejam.
bergerak begitu cepat, hingga aku tertinggal dalam diam.
Di antara deretan jadwal yang mengepung waktu,
tiba-tiba ada lubang besar di dadaku "kosong dan kaku" .
Maka kubuka pintu itu, sebuah dunia di balik layar.
tempat identitasku luruh dan harga diriku memudar.
Aku menjelma raga yang bisa dibeli,
menukar kepuasan demi sejumput hangat yang tak abadi.
Di sudut batin, ada suara yang mencibir tajam
"Rendah sekali dirimu," bisiknya dalam kelam.
Namun, apa daya? Aku tak punya jalan pulang,
ketika dunia terasa asing dan kasih sayang kian jarang.
Inilah caraku membunuh sunyi yang kian pekat.
menghadirkan asing untuk singgah sesaat.
Meski aku tahu ini jalan yang keliru,
Tapi aku hanya ingin merasa dibutuhkan, meski di balik semu.
Setidaknya, untuk satu helai napas yang singkat.
aku tak lagi sendiri dalam dunia yang kian berat.