Mamasayang
Semprot Baru
- Daftar
- 12 Nov 2025
- Post
- 28
- Like diterima
- 224
Part 1
Di sebuah rumah besar di pinggiran kota Jakarta, yang dikelilingi taman hijau dan masjid kecil di halaman belakang, hidup sebuah keluarga yang dikenal sangat religius. Keluarga itu dipimpin oleh Ustadz Wahyu, seorang pria berusia 65 tahun yang sudah sepuh tapi masih gagah. Beliau adalah seorang pengusaha sukses di bidang properti halal, dan juga ustadz yang sering memberikan ceramah di masjid-masjid sekitar. Rambutnya sudah memutih, jenggot panjang yang rapi, dan matanya penuh kebijaksanaan. Sayangnya, sejak lama Ustadz Wahyu menderita impotensi, sebuah rahasia keluarga yang hanya diketahui oleh istrinya. Itu membuatnya lebih fokus pada urusan agama dan bisnis, meninggalkan urusan rumah tangga pada istrinya yang setia.
Istrinya, yang dipanggil Umi Aisyah, berusia 47 tahun. Umi Aisyah adalah wanita yang sangat polos dan tertutup, selalu mengenakan cadar hitam yang menutupi wajahnya kecuali matanya yang lembut dan penuh kasih sayang. Pakaiannya longgar, abaya hitam yang menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala. Tak ada yang tahu, termasuk anak-anaknya, bahwa di balik kain tebal itu tersembunyi tubuh yang masih seksi: payudara besar dan bulat yang tetap kencang meski usia sudah kepala empat, perut ramping yang hasil dari pola makan sehat dan shalat malam, serta pantat besar yang montok. Umi Aisyah adalah ibu rumah tangga yang taat, selalu memasak makanan halal untuk keluarga, mengajar ngaji anak-anak tetangga, dan mendukung suaminya dalam segala hal. Dia adalah contoh sempurna seorang istri Muslimah yang patuh.
Mereka memiliki dua anak. Yang sulung adalah seorang ukhti berusia 25 tahun bernama Nurul, seorang ustadzah yang cantik dan masih perawan. Nurul tinggal di pesantren di daerah Bogor, mengajar anak-anak santri tentang Al-Quran dan fiqih. Dia jarang pulang ke rumah, hanya saat libur panjang atau acara keluarga besar. Nurul mirip ibunya: bercadar, sopan, dan sangat religius. Wajahnya oval dengan kulit putih bersih, mata hitam yang ekspresif, dan senyum yang hangat. Tubuhnya ramping tapi proporsional, dengan pinggul yang lebar yang tersembunyi di balik jilbab panjangnya. Nurul adalah kebanggaan keluarga, sering disebut-sebut sebagai calon pemimpin pesantren suatu hari nanti.
Anak bungsu mereka adalah Risky, pemuda berusia 20 tahun yang menjadi pusat cerita ini. Risky lahir dan besar di lingkungan Islami yang ketat, tapi dia punya sisi liar yang disembunyikan dengan baik. Tubuhnya tinggi mencapai 185 cm, dengan badan berotot yang dibentuk dari latihan bela diri sejak kecil—dia mahir karate dan silat, bisa mengalahkan lawan dua kali ukurannya. Wajahnya tampan, kulit sawo matang, rahang tegas, dan rambut hitam pendek yang rapi. Tapi yang membuatnya berbeda adalah "aset" pribadinya: kontol sepanjang 20 cm yang tebal dan tahan lama, plus skill seks yang luar biasa yang dia pelajari dari pengalaman diam-diam dengan wanita-wanita di luar rumah. Risky populer di kalangan gadis-gadis nakal di kampusnya—mahasiswa teknik yang pintar tapi suka main. Dia sering diajak kencan oleh cewek-cewek berpakaian ketat, yang tergila-gila dengan pesonanya. Tapi di rumah, dia berpura-pura anak soleh: shalat tepat waktu, baca Quran, dan hormat pada orang tua.
Suatu sore yang cerah, setelah shalat Ashar, keluarga berkumpul di ruang tamu yang sederhana tapi nyaman. Lantai karpet hijau, dinding dihiasi kaligrafi Allah dan Muhammad, dan aroma teh jahe hangat memenuhi udara. Ustadz Wahyu duduk di kursi empuk, memegang tasbih, sementara Umi Aisyah menyajikan camilan kurma dan kue basah. Risky baru pulang dari kampus, masih memakai kemeja putih dan celana panjang, tas ranselnya diletakkan di pojok.
"Assalamu'alaikum, Abi, Umi," sapa Risky sambil mencium tangan ayah dan ibunya secara bergantian.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Duduklah, Abi ada yang mau dibicarakan," kata Ustadz Wahyu dengan suara tenang tapi tegas. Matanya memandang Risky penuh harap.
Umi Aisyah tersenyum di balik cadarnya, matanya berbinar. "Iya, Sayang. Abi sudah lama mikirin ini. Kamu sudah besar, sudah waktunya pikirkan masa depan."
Risky duduk di sofa seberang, hatinya mulai berdegup. Dia tahu ayahnya suka bicara soal tanggung jawab, tapi hari ini terasa berbeda. "Ada apa, Abi? Kayaknya serius banget."
Ustadz Wahyu menghela napas pelan, memutar tasbih di tangannya. "Risky, anakku. Kamu tahu, Abi sudah tua. Bisnis Abi alhamdulillah lancar, tapi Abi ingin lihat kamu settle sebelum Abi pergi. Kamu anak laki-laki satu-satunya, penerus keluarga ini. Abi punya teman lama, Ustadz Ahmad, yang punya anak perempuan bagus. Namanya Fatimah, umurnya 24 tahun. Dia ustadzah di madrasah, bercadar seperti Umi kamu, taat beribadah. Abi pikir, dia cocok buat kamu. Abi mau jodohkan kalian."
Risky terdiam sejenak, matanya melebar. Fatimah? Dia ingat pernah lihat sekilas di acara pengajian keluarga, gadis bercadar yang sopan, selalu menunduk. Tapi umur 24? Lebih tua darinya? "Abi... serius? Aku baru 20 tahun, loh. Masih kuliah, masih banyak yang mau aku lakuin."
Umi Aisyah ikut bicara, suaranya lembut. "Nak, Fatimah orang baik. Dia cantik, pintar, dan religius. Kamu pasti suka kalau kenal lebih dekat. Umi dulu juga dijodohkan sama Abi, dan alhamdulillah bahagia sampai sekarang."
Risky tersenyum paksa, tapi dalam hati dia bergolak. Dia ingat malam kemarin, saat dia habiskan waktu dengan Rina, cewek nakal dari kampus sebelah. Rina yang berpakaian mini, yang suka godain dia di klub malam diam-diam. "Abi, aku hargain niat Abi. Tapi... aku masih muda. Aku populer di kampus, banyak teman cewek yang suka ngajak jalan. Aku mau nikmatin hidup dulu, explore dunia. Nikah sekarang? Kayaknya terlalu cepat."
Ustadz Wahyu menggeleng pelan, tapi tetap tenang. "Itu yang Abi khawatirkan, Nak. Dunia luar banyak godaan. Wanita-wanita nakal itu bukan untuk kamu. Fatimah bisa bantu kamu tetap di jalan yang benar. Dia sebenarnya cantik sekali, tubuhnya... eh, maksud Abi, dia sehat dan solehah. Kamu bisa ketemu dulu, bicara-bicara. Abi sudah janji sama Ustadz Ahmad, besok malam kita makan malam bareng keluarga mereka."
Risky mengangguk pelan, tapi pikirannya melayang. Dia bayangkan Fatimah tanpa cadar—mungkin wajahnya oval, bibir tebal, dan tubuh yang seksi tersembunyi di balik abaya. Tapi itu bukan poinnya. Poinnya adalah kebebasan. Dia suka jadi pusat perhatian wanita-wanita liar, yang suka bilang, "Risky, kamu kuat banget," setelah malam panas. Skillnya di ranjang, kontol besar yang bikin mereka mengerang, bela dirinya yang bikin dia percaya diri. Nikah sekarang berarti akhir dari semua itu? Dia masih ingin main, masih ingin rasain petualangan masa muda. "Baik, Abi. Aku coba ketemu dulu. Tapi jangan paksa ya."
Umi Aisyah memegang tangan Risky. "InsyaAllah, Nak. Ini yang terbaik buat kamu. Kak Nurul juga dukung, kemarin Umi telepon dia di pesantren. Dia bilang, 'Risky butuh pendamping yang bisa jagain dia dari fitnah.'"
Risky tertawa kecil, berusaha santai. "Kak Nurul emang selalu bijak. Oke, Umi. Aku siap besok. Tapi sekarang aku capek, mau istirahat dulu."
Saat Risky naik ke kamarnya, hatinya masih bergolak. Dia lempar tubuhnya ke kasur, memandang langit-langit. "Nikah? Di umur 20? Aku masih pengen bebas, pengen rasain cewek-cewek lain. Fatimah mungkin oke, tapi aku gak mau terikat dulu." Dia ingat pesan masuk di ponselnya dari Lisa, cewek clubbing yang suka kirim foto seksi. "Besok malam ketemu lagi ya, sayang. Aku kangen badanmu yang berotot itu." Risky tersenyum miring, tapi ada rasa bersalah. Keluarganya religius, ayahnya ustadz, ibunya polos. Tapi dia? Dia punya sisi gelap yang enak. Apa dia bisa ubah itu demi perjodohan ini?
Malam itu, saat shalat Maghrib, Risky berdoa dalam hati. "Ya Allah, beri aku petunjuk. Aku mau taat sama Abi, tapi hati ini masih ingin bebas." Di luar kamar, Umi Aisyah memasak makan malam, tak sadar bahwa anaknya sedang berjuang dengan gejolak nafsu mudanya. Sementara Ustadz Wahyu menelepon Ustadz Ahmad, mengonfirmasi pertemuan besok. Cerita ini baru dimulai, dan Risky belum tahu bahwa perjodohan ini akan membuka pintu-pintu rahasia yang tak terduga dalam hidupnya.
Part 2
Besok malamnya, suasana di rumah Ustadz Ahmad sudah ramai dengan persiapan makan malam. Rumah mereka di kawasan Depok, tidak jauh dari Jakarta, mirip rumah keluarga Risky: sederhana tapi luas, dengan halaman depan yang ditanami pohon kurma dan ruang tamu yang dihiasi karpet mushola. Ustadz Ahmad, ayah Fatimah, sudah sepuh seperti Ustadz Wahyu, usianya 67 tahun. Beliau ustadz pensiunan yang sekarang lebih banyak mengajar di rumah, tubuhnya kurus tapi tegap, jenggot putih panjang, dan matanya tajam penuh pengalaman hidup. Dia sangat taat, dan Fatimah, anak sulungnya, selalu nurut pada perintah ayahnya. Fatimah memang gadis solehah, 24 tahun, ustadzah di madrasah setempat, selalu bercadar hitam yang menutupi wajah cantiknya—kulit putih mulus, mata cokelat besar yang ekspresif, hidung mancung, dan bibir tipis yang jarang tersenyum lebar. Tubuhnya sebenarnya seksi: tinggi 165 cm, payudara sedang tapi bulat sempurna, pinggang ramping, dan pinggul lebar yang membuat abayanya sedikit bergoyang saat berjalan. Tapi semuanya tertutup rapat, membuatnya terlihat polos dan tertutup seperti ibunya.
Ibu Fatimah, yang dipanggil Umi Siti, berusia 48 tahun. Mirip Umi Aisyah, dia bercadar dan mengenakan gamis lebar berwarna hitam yang longgar, menyembunyikan tubuh cantiknya yang masih terawat: wajah oval dengan kulit cerah, payudara sedang tapi bulat dan kencang seperti buah matang, perut ramping hasil dari puasa sunnah rutin, dan pantat besar yang montok. Umi Siti adalah ibu rumah tangga yang ramah, suka memasak hidangan Arab seperti kebab dan hummus untuk acara keluarga. Dia jarang bicara banyak, lebih suka mendengarkan suaminya.
Adik Fatimah, namanya Zahra, baru 17 tahun, masih SMA di sekolah Islam. Zahra gadis cantik bercadar seperti kakaknya, tubuhnya sedikit mungil dengan tinggi 155 cm, kulit putih bersih, mata hitam yang polos, dan senyum manis yang malu-malu. Tubuhnya khas ABG: ramping tapi mulai berbentuk, payudara kencang yang kecil tapi proporsional, dan pantat bulat yang membuat celana panjangnya sedikit ketat di bagian belakang meski ditutupi jilbab panjang. Zahra pendiam, suka baca buku agama dan main piano Islami di kamarnya. Dia ikut dalam pertemuan ini karena ayahnya ingin seluruh keluarga hadir.
Keluarga Risky tiba tepat setelah Maghrib, mobil mereka parkir di halaman depan. Ustadz Wahyu turun duluan, diikuti Umi Aisyah yang berjalan pelan dengan cadarnya, lalu Risky yang memakai kemeja putih panjang dan celana kain hitam, tampan seperti biasa dengan tubuh berototnya yang terlihat samar di balik baju. Risky merasa gugup, tapi berusaha santai. Dia belum terlalu perhatikan Umi Siti saat masuk, fokusnya lebih ke Fatimah yang dia tahu akan jadi calonnya.
"Assalamu'alaikum, Ahmad sahabatku," sapa Ustadz Wahyu sambil memeluk Ustadz Ahmad di pintu depan. Kedua orang tua itu saling tersenyum, mata mereka penuh kenangan.
"Wa'alaikumsalam, Wahyu. Alhamdulillah, akhirnya kita bisa kumpul lagi. Masuklah, masuk," balas Ustadz Ahmad dengan suara hangat. Dia mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu yang sudah disiapkan meja makan sederhana: nasi mandi, ayam goreng, dan sayur asam.
Umi Aisyah saling salam dengan Umi Siti, keduanya mencium pipi di balik cadar. "Umi Siti, apa kabar? Lama tak jumpa," kata Umi Aisyah lembut.
"Alhamdulillah baik, Umi Aisyah. Anak-anak sehat? Ini Fatimah dan Zahra, kenalkan," jawab Umi Siti sambil menunjuk putrinya. Fatimah dan Zahra berdiri sopan, menunduk sambil mengucap salam.
Risky ikut salam, mencium tangan Ustadz Ahmad dan Umi Siti secara cepat, tanpa benar-benar perhatikan Umi Siti—pikirannya masih penuh keraguan. Lalu dia berhadapan dengan Fatimah. "Assalamu'alaikum, Ukhti Fatimah," sapa Risky pelan, matanya mencoba menangkap ekspresi di balik cadar.
"Wa'alaikumsalam, Akhi Risky," balas Fatimah dengan suara halus, matanya menunduk. Zahra di sampingnya hanya tersenyum malu, "Assalamu'alaikum," katanya singkat.
Mereka semua duduk di sekitar meja makan setelah shalat Isya berjamaah di mushola rumah. Suasana hangat, aroma makanan menggoda. Ustadz Wahyu memulai pembicaraan sambil menyendok nasi. "Ahmad, ingat gak dulu waktu kita sama-sama mondok di pesantren? Kamu yang selalu jagain aku dari godaan anak-anak kampung. Haha, sekarang anak kita yang kita jodohkan. Ini pasti takdir Allah."
Ustadz Ahmad tertawa kecil, memutar tasbih di tangannya. "Ingat banget, Wahyu. Waktu itu kita janji, kalau punya anak, kita satukan keluarga. Fatimah ini anak baik, dia nurut sama Abi. Dia sudah siap kalau ini jalan terbaik. Gimana, Fatimah?"
Fatimah mengangguk pelan, suaranya tenang tapi patuh. "Iya, Abi. Kalau Abi bilang ini baik, Fatimah ikut. InsyaAllah, Akhi Risky orang soleh seperti yang Abi ceritain."
Risky tersenyum paksa, hatinya masih bergolak. Dia lihat Fatimah sekilas—dia memang cantik dari matanya yang terlihat, tapi pikirannya melayang ke kebebasannya. "Alhamdulillah, Ukhti. Tapi... aku masih kuliah, banyak tugas. Abi Wahyu cerita banyak soal Ukhti, pasti orang baik."
Umi Siti ikut bicara, suaranya ramah. "Risky, Nak. Fatimah ini suka masak, bisa bantu kamu di rumah nanti. Zahra juga, dia adiknya, bisa belajar dari kakaknya. Keluarga kami sederhana, tapi insyaAllah bisa bahagiain kamu."
Zahra hanya mengangguk, matanya melirik Risky penasaran tapi cepat menunduk lagi. Risky balas senyum ke Zahra, "Iya, Ukhti Zahra. Kamu masih sekolah ya? Semangat belajarnya."
Pembicaraan berlanjut ke cerita lama. Ustadz Ahmad cerita, "Dulu, Wahyu, kita pernah selamat dari banjir besar di pesantren karena saling bantu. Itu yang bikin persahabatan kita kuat. Sekarang, lewat anak-anak, kita lanjutkan silaturahmi ini."
Ustadz Wahyu mengangguk setuju. "Benar, Ahmad. Risky ini anak pintar, bisnis Abi dia yang kelola nanti. Dia kuat bela diri juga, bisa jagain Fatimah. Gimana, Risky? Kamu setuju kan?"
Risky terdiam sejenak, mengaduk makanannya. Semua mata tertuju padanya. Dia ragu—bayangkan kalau nikah sekarang, goodbye petualangan malam dengan cewek-cewek kampus. Tapi dia tak mau kecewakan ayahnya di depan orang. "Abi... alhamdulillah, ini kehormatan besar. Ukhti Fatimah pasti calon istri yang baik. Tapi aku minta waktu dulu, ya? Biar aku istikharah dan pikir matang-matang. Mungkin seminggu atau dua minggu?"
Ustadz Wahyu menghela napas, tapi tersenyum. "Baiklah, Nak. Abi paham kamu masih muda. Tapi jangan lama-lama, ya. Ahmad, gimana?"
Ustadz Ahmad mengangguk bijak. "Gak apa-apa, Wahyu. Biar anak-anak kenal dulu. Fatimah, kamu oke kan?"
"Iya, Abi. Fatimah tunggu jawaban Akhi Risky," kata Fatimah patuh, meski ada sedikit rasa penasaran di matanya.
Umi Aisyah dan Umi Siti saling pandang, senang dengan kemajuan. Zahra diam saja, tapi diam-diam dia perhatikan Risky yang tampan dan berotot itu. Risky sendiri, saat pulang nanti, masih ragu. Di mobil, dia diam, pikirannya penuh gejolak. Pertemuan ini seharusnya sederhana, tapi entah kenapa, dia mulai perhatikan hal-hal kecil—like senyum malu Zahra atau suara lembut Umi Siti yang baru dia sadari saat pamitan. Tapi untuk sekarang, dia butuh waktu. Cerita ini masih panjang, dan rahasia-rahasia mulai terbuka pelan-pelan.
Part 3
Beberapa hari setelah pertemuan makan malam itu, Risky masih bergumul dengan keraguannya. Di kamarnya, dia memandang ponsel yang penuh pesan dari cewek-cewek kenalannya. "Kenapa harus buru-buru nikah? Aku masih muda, masih pengen bebas," gumamnya dalam hati. Akhirnya, dia putuskan untuk manfaatkan waktu "berpikir" yang dia minta itu dengan cara yang paling enak baginya: menikmati masa mudanya dengan para "budak seks" yang sudah dia didik selama ini. Risky punya tiga cewek tetap yang dia kenal dari kampus dan circle malam: Rina, cewek 21 tahun yang nakal dengan tubuh ramping dan payudara kecil tapi sensitif; Lisa, 22 tahun, berambut panjang hitam, pantat bulat yang suka digoyang; dan Mia, 19 tahun, ABG kampus yang polos di depan tapi liar di ranjang, dengan kulit putih dan kaki panjang. Ketiganya sudah Risky latih jadi nurut total—mereka panggil dia "Master" di kamar, siap lakuin apa aja demi kontol besar 20 cm-nya yang tahan lama dan skill seksnya yang bikin mereka ketagihan.
Malam pertama, Risky ajak Rina ke apartemen kecil yang dia sewa diam-diam di pusat kota. "Rina, malam ini kamu harus nurut total, ya? Gak ada nolak," pesan Risky lewat chat. Rina balas langsung, "Iya, Master. Aku siap digoyang sampe pagi." Saat ketemu, Rina sudah pakai lingerie merah tipis, tubuhnya gemetar excited. Risky dorong dia ke dinding, cium lehernya sambil tangannya meremas payudaranya yang kencang. "Kamu budakku, ingat? Bilang 'terima kasih' setiap aku kasih kenikmatan," perintah Risky dengan suara dalam. Rina mengerang, "Terima kasih, Master..." Risky angkat kakinya, masukkan kontolnya yang sudah tegang, dan mulai gerak lambat tapi dalam, bikin Rina bergetar. Skillnya luar biasa—dia tahu spot mana yang bikin ceweknya orgasme berkali-kali. Malam itu, mereka lakuin posisi doggy, cowgirl, sampe Rina lemas di kasur, badannya basah keringat. "Master, aku gak bisa tanpa kamu," bisik Rina saat tidur di pelukannya.
Besoknya, giliran Lisa. Mereka ketemu di hotel murah tapi nyaman. Lisa, yang biasa clubbing, sudah didik Risky jadi submissive total. "Master, hari ini aku mau diikat," katanya sambil tunjuk tali yang dia bawa. Risky tersenyum miring, ikat tangan Lisa ke ranjang, lalu mulai godain dengan lidahnya di seluruh tubuhnya—dari leher, payudara, sampe ke bawah. Kontolnya yang besar dia gosok-gosok dulu biar Lisa minta-minta. "Mohon, Master... masukin sekarang," rengek Lisa. Risky masuk pelan, lalu percepat ritme, tahan lama sampe Lisa orgasme tiga kali. Tubuh berototnya yang dari bela diri bikin dia kuat angkat Lisa dan lakuin standing position. "Kamu milikku, Lisa. Gak boleh sama cowok lain," kata Risky sambil finis di dalamnya. Lisa angguk lemas, "Iya, Master. Hanya kamu."
Hari ketiga, Mia yang termuda. Mereka ketemu di mobil Risky di pinggir danau malam-malam. Mia masih polos di luar, tapi Risky sudah ajarin dia jadi budak yang haus. "Master, aku kangen kontol besar kamu," katanya sambil buka baju sendiri. Risky parkir mobil, lalu dorong kursi belakang, mulai dengan oral—Mia nurut hisap kontolnya sampe dalam, seperti yang Risky ajarin. Lalu Risky balik, lidahnya main di area sensitif Mia sampe dia mengerang keras. "Sst, jangan keras-keras, Mia. Ini rahasia kita," bisik Risky. Dia masuk dari belakang, kontol 20 cm-nya bikin Mia bergetar, skillnya bikin dia tahan 30 menit tanpa berhenti. Mia orgasme berkali-kali, badannya mungil bergoyang di pelukan Risky yang kuat. "Terima kasih, Master. Aku budakmu selamanya," kata Mia saat mereka istirahat, bintang-bintang di atas mereka.
Risky puas banget selama tiga hari itu. "Ini yang gue mau, bebas tanpa ikatan," pikirnya. Tapi keesokan harinya, saat dia lagi santai di rumah, ponsel berdering. Itu dari Umi Aisyah. "Risky, Nak! Cepat pulang! Ada kabar buruk dari keluarga Fatimah."
Risky buru-buru pulang. Di ruang tamu, Ustadz Wahyu duduk dengan wajah murung, tasbih di tangan berputar cepat. Umi Aisyah mata merah, seperti habis nangis. "Ada apa, Abi? Umi?" tanya Risky gugup, duduk di sebelah mereka.
Ustadz Wahyu menghela napas panjang. "Anakku, Ustadz Ahmad... ayah Fatimah, kesehatannya menurun drastis. Gula darahnya naik tinggi, ditambah penyakit jantung yang lama diderita. Tadi pagi masuk rumah sakit, kondisinya kritis. Dokter bilang mungkin gak lama lagi."
Umi Aisyah ikut bicara, suaranya gemetar. "Umi Siti telepon tadi, Nak. Mereka sedih banget. Ustadz Ahmad minta satu hal sebelum... sebelum dia pergi: lihat Fatimah menikah. Dia bilang, 'Wahyu, tolong percepat pernikahan anak-anak kita. Ini wasiat saya.'"
Risky terdiam, hatinya campur aduk. Dia baru aja nikmatin "kebebasan", tapi sekarang ini? "Abi... aku belum siap. Maksudnya, aku hargain, tapi..."
Ustadz Wahyu memandang tajam, tapi penuh kasih. "Risky, ini bukan soal siap atau enggak. Ini soal amanah. Ustadz Ahmad sahabat Abi seumur hidup. Dia lagi sekarat, Nak. Kalau kita tunda, bisa-bisa dia pergi tanpa lihat Fatimah bahagia. Kamu anak soleh, kan? Pikirkan akhiratmu."
Umi Aisyah pegang tangan Risky. "Nak, Umi tahu kamu masih muda. Tapi Fatimah orang baik, dia bisa bantu kamu. Zahra adiknya juga bilang, kakaknya nunggu jawabanmu. Jangan kecewakan mereka, ya?"
Risky geleng-geleng pelan, tapi desakan itu bikin dia terpaksa. "Baiklah, Abi. Aku iyain. Tapi... gimana caranya? Pernikahan sekarang?"
Ustadz Wahyu angguk. "InsyaAllah, kita lakukan di rumah sakit. Ustadz Ahmad yang jadi wali langsung, meski dari tempat tidur. Besok pagi kita ke sana. Abi sudah hubungi penghulu dan saksi."
Malam itu, Risky gak bisa tidur. Dia chat Kak Nurul di pesantren. "Kak, aku terpaksa nikah besok. Abi Fatimah sakit parah." Nurul balas, "Risky, ini ujian. Nikah itu sunnah, insyaAllah berkah. Kak doain kamu."
Keesokan paginya, di rumah sakit swasta di Depok, suasana hening tapi penuh haru. Ustadz Ahmad terbaring di ranjang ICU, oksigen di hidung, wajah pucat tapi mata berbinar saat lihat Risky dan keluarga datang. Fatimah di samping ayahnya, cadarnya basah air mata. Umi Siti dan Zahra juga ada, Zahra pegang tangan kakaknya.
"Assalamu'alaikum, Ustadz Ahmad," sapa Risky pelan, cium tangan orang tua itu.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Alhamdulillah kamu datang. Abi... lemah, tapi Abi mau lihat ini," kata Ustadz Ahmad dengan suara parau, napasnya pendek.
Penghulu datang, saksi-saksi siap. Mereka kumpul di ruang kecil di sebelah ICU, dengan Ustadz Ahmad ikut via video call dari ranjangnya. Fatimah duduk di sebelah Risky, matanya menunduk. "Ukhti, maaf kalau ini mendadak," bisik Risky.
Fatimah angguk pelan. "Gak apa, Akhi. Ini kehendak Allah. Fatimah ikhlas."
Penghulu mulai ijab qabul. Ustadz Ahmad, sebagai wali, bicara lewat speaker: "Risky bin Wahyu, aku nikahkan engkau dengan anakku Fatimah binti Ahmad, dengan mas kawin Al-Quran satu set dan uang tunai sepuluh juta rupiah, dibayar tunai."
Risky tarik napas dalam, hatinya masih ragu tapi terpaksa. "Saya terima nikahnya Fatimah binti Ahmad dengan mas kawin tersebut, tunai."
Semua bilang "Sah!" Ustadz Ahmad tersenyum lemah. "Alhamdulillah... Fatimah, Nak, jaga suamimu. Risky, jagalah anakku."
Umi Aisyah dan Umi Siti saling peluk, air mata bahagia. Zahra bisik ke Fatimah, "Kak, selamat ya. Akhi Risky tampan banget."
Setelah itu, mereka pulang. Di mobil, Ustadz Wahyu tepuk bahu Risky. "Kamu lakuin yang benar, Nak. Sekarang, bawa Fatimah ke rumah kita besok. Mulai hidup baru."
Risky angguk, tapi dalam hati: "Aku nikah sekarang? Kebebasanku hilang?" Tapi dia lihat Fatimah di belakang, yang sekarang istrinya, dan mulai pikir mungkin ini awal petualangan baru. Cerita rumah tangga mereka baru dimulai, dengan rahasia-rahasia yang menunggu terungkap.
Part 4
Malam itu, setelah ijab qabul di rumah sakit, suasana pulang ke rumah keluarga Risky terasa berat. Fatimah dibawa pulang oleh Umi Siti dan Zahra sementara, tapi karena sudah sah sebagai istri, dia akhirnya ikut ke rumah Risky untuk malam pertama—meski tak ada pesta atau apa pun. Ustadz Wahyu dan Umi Aisyah sudah siapkan kamar khusus untuk mereka, kamar tamu yang luas dengan kasur king size, tirai tebal, dan lampu temaram. Risky masuk duluan, meletakkan tas kecil Fatimah di pojok. Fatimah mengikuti pelan, cadarnya masih basah air mata, tubuhnya bergetar pelan karena syok dengan hari yang penuh emosi: pernikahan mendadak dan kondisi ayahnya yang kritis.
"Ukhti... eh, maksudku, Fatimah. Kamu istirahat aja dulu. Aku tidur di sofa ini," kata Risky santai, suaranya pelan sambil nunjuk sofa panjang di sudut kamar. Dia gak mau ganggu, tahu Fatimah lagi syok berat. Pikirannya pasti campur aduk: senang nikah, tapi khawatir ayahnya.
Fatimah duduk di pinggir kasur, tangannya memegang ujung abayanya erat. Matanya menunduk, suaranya hampir bisik. "Terima kasih, Akhi. Fatimah... masih gak percaya hari ini. Abi... kondisinya..."
Risky angguk, duduk di sofa sambil lepas sepatu. "Iya, aku ngerti. Hari ini mendadak banget. Kamu tidur aja, biar besok kita liat kabar Abi kamu. Aku gak akan ganggu, janji."
Suasana kamar jadi sunyi sepi. Hanya suara jam dinding tik-tok samar, dan angin malam yang hembus lewat jendela. Fatimah pelan-pelan rebahan, masih pakai cadar dan abaya, gak berani buka karena malu dan syok. Risky matiin lampu utama, tinggal lampu tidur kecil yang kuning redup. Dia rebahan di sofa, pikirannya melayang. "Gila, gue baru nikah. Tapi dia lagi syok, gue gak bakal maksa apa-apa. Besok aja deh," gumamnya dalam hati. Malam itu berlalu tanpa kata-kata lagi, hanya napas pelan Fatimah yang sesekali tersendat, dan Risky yang gak bisa tidur nyenyak, memandang langit-langit sambil mikir kebebasannya yang hilang.
Pagi harinya, suasana rumah masih tenang. Umi Aisyah bangunin mereka untuk shalat Subuh, lalu sarapan bareng. Fatimah lebih tenang sedikit, meski matanya bengkak. "Alhamdulillah, Akhi. Semalam Fatimah bisa istirahat," katanya pelan saat mereka duduk di meja makan.
Risky tersenyum kecil, badannya yang berotot terlihat samar di balik kaos putih. "Baguslah. Hari ini kita ke rumah sakit yuk, liat Abi kamu. Aku anterin."
Ustadz Wahyu angguk setuju. "Iya, Nak. Abi doain Ustadz Ahmad cepat sembuh. Kalian sekarang suami istri, harus saling jaga."
Tapi sebelum mereka berangkat, ponsel Umi Aisyah berdering. Itu dari Umi Siti. Umi Aisyah angkat, wajahnya langsung pucat. "Innalillahi... ya Allah..." gumamnya, air mata mengalir. Semua mata tertuju padanya.
"Ada apa, Umi?" tanya Risky cepat, berdiri.
Umi Aisyah tutup telepon, suaranya gemetar. "Ustadz Ahmad... ayah Fatimah... baru saja meninggal dunia. Tadi subuh, gula darahnya naik lagi, jantungnya berhenti. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un."
Fatimah langsung ambruk, menangis tersedu. "Abi... Abi..." Zahra, yang ternyata ikut telepon dari sana, pasti lagi hancur juga. Risky langsung dekati Fatimah, pegang bahunya pelan—pertama kali dia sentuh istrinya. "Sabar, Fatimah. Kita ke sana sekarang."
Ustadz Wahyu bacain istighfar, matanya merah. "Ini ujian dari Allah. Kita harus kuat. Risky, kamu sekarang kepala keluarga baru untuk Fatimah. Abi percayain kamu."
Beberapa jam kemudian, di rumah Fatimah di Depok, suasana penuh duka. Jenazah Ustadz Ahmad sudah dimandikan dan disholatkan di masjid dekat rumah. Keluarga berkumpul di ruang tamu, Umi Siti duduk lemas di sofa, cadarnya basah, Zahra di sampingnya menangis pelan. Fatimah langsung peluk ibunya saat tiba. "Umi... Abi pergi beneran..."
Umi Siti peluk Fatimah erat. "Iya, Nak. Abi pergi dengan tenang, setelah liat kamu nikah. Itu wasiat terakhirnya."
Risky berdiri di pojok, bela dirinya yang kuat sekarang terasa berguna untuk jaga keluarga ini. Ustadz Wahyu tarik Risky ke samping. "Nak, sekarang situasinya beda. Keluarga Fatimah gak ada laki-laki lagi. Umi Siti, Fatimah, dan Zahra butuh pelindung. Kamu harus pindah ke sini, jaga mereka. Bisnis Abi bisa kamu kelola dari mana aja, rumah ini deket kota."
Risky terkejut, tapi tahu ini terpaksa. "Abi... iya, aku paham. Aku gak bisa biarin mereka sendirian. Tapi aku belum siap banget..."
Umi Aisyah ikut bicara, suaranya lembut. "Ini tanggung jawabmu sekarang, Risky. Fatimah istrimu, Umi Siti mertuamu, Zahra iparmu. Kamu laki-laki kuat, bisa bela diri, bisa jaga mereka dari apa aja. Umi doain kalian bahagia."
Akhirnya, sore itu juga, Risky putuskan pindah. Dia bawa barang-barang penting dari rumah lamanya, termasuk baju, laptop, dan perlengkapan bela dirinya. Rumah Fatimah cukup luas, kamar utama sekarang untuk dia dan Fatimah, sementara Umi Siti dan Zahra di kamar masing-masing. Malam pertama di rumah baru, setelah pemakaman, suasana masih duka. Mereka shalat Maghrib bareng, lalu makan malam sederhana yang dimasak Umi Siti.
Di kamar, Risky dan Fatimah lagi-lagi sunyi. Fatimah duduk di kasur, melepas cadarnya untuk pertama kali di depan Risky—wajahnya cantik, mata cokelat besar, bibir tipis, kulit putih mulus. "Akhi... terima kasih udah mau pindah ke sini. Fatimah tahu ini mendadak buat kamu."
Risky duduk di sebelahnya, jaga jarak. "Gak apa, Fatimah. Aku suamimu sekarang, tugasku jaga kamu, Umi, dan Zahra. Abi kamu pasti ingin gitu. Kamu... masih syok ya?"
Fatimah angguk, air mata mengalir lagi. "Iya... Abi pergi cepat banget. Tapi alhamdulillah, dia sempat walikan kita. Sekarang... kita harus mulai hidup baru."
Di luar kamar, Umi Siti dan Zahra ngobrol pelan di ruang tamu. "Umi, Akhi Risky orang baik ya? Dia tinggi, berotot, pasti bisa jaga kita," kata Zahra malu-malu, tubuh mungilnya meringkuk di sofa.
Umi Siti tersenyum lemah. "Iya, Nak. Allah kasih kita pelindung baru. Kamu harus hormat sama kakak iparmu itu. Jangan ganggu dia dan Fatimah."
Keesokan harinya, Risky mulai adaptasi. Pagi-pagi dia latihan bela diri di halaman belakang, badannya berkeringat, ototnya menonjol. Zahra ngintip dari jendela, matanya penasaran. "Wah, Akhi kuat banget," gumamnya.
Fatimah keluar bawa teh. "Akhi, minum dulu. Fatimah masakin sarapan. Umi lagi istirahat, dia capek."
Risky ambil teh, tersenyum. "Makasih, Istri. Eh, maksudku Fatimah. Kita pelan-pelan aja ya, gak usah buru-buru. Aku janji jaga kalian semua."
Umi Siti ikut keluar, suaranya ramah. "Risky, Nak. Terima kasih ya. Rumah ini sekarang aman sama kamu. Kalau ada apa-apa, bilang aja ke Umi."
Risky angguk, hatinya mulai terbiasa. "Iya, Umi. Aku di sini sekarang, keluarga kita." Dalam hati, dia masih ingat masa mudanya yang liar, tapi tanggung jawab ini bikin dia mikir ulang. Mungkin, di rumah ini, ada petualangan baru yang menunggu—dengan Fatimah yang mulai buka hati, Umi Siti yang butuh dukungan, dan Zahra yang polos. Cerita mereka baru mulai, penuh rahasia dan gejolak.
Part 5
Beberapa hari setelah pemakaman Ustadz Ahmad, suasana di rumah mulai sedikit tenang. Duka masih menyelimuti, tapi kehidupan harus berlanjut. Umi Siti lebih banyak diam di kamarnya, shalat dan dzikir untuk menguatkan hati. Zahra kembali ke sekolah, meski matanya sering merah karena ingat ayahnya. Fatimah, sebagai anak sulung dan sekarang istri Risky, mulai bisa tersenyum kecil saat ngobrol dengan Risky. Mereka belum lakukan apa-apa sebagai suami istri—Risky kasih waktu, gak mau maksa. Dia sibuk urus bisnis ayahnya dari rumah, latihan bela diri di pagi hari, dan jaga keluarga baru ini. Malam-malam sebelumnya, mereka tidur di kasur yang sama tapi dengan jarak, Fatimah masih pakai cadar bahkan di kamar, dan Risky tidur di pinggir sambil ngobrol santai tentang hari mereka.
Suatu malam, setelah shalat Isya, hujan deras di luar membuat rumah terasa lebih intim. Umi Siti dan Zahra sudah tidur lebih dulu, capek setelah seharian membersihkan rumah. Risky dan Fatimah masuk ke kamar mereka—kamar utama yang dulu milik orang tua Fatimah, sekarang direnovasi sederhana dengan kasur besar, lampu temaram, dan aroma minyak kayu putih yang menenangkan. Fatimah duduk di pinggir kasur, melepas sepatu rumahnya pelan. Matanya sudah tak lagi bengkak, meski masih ada bayang duka.
"Akhi... Fatimah udah lebih tenang sekarang. Terima kasih ya, kamu sabar banget nungguin," kata Fatimah pelan, suaranya lembut seperti biasa. Dia angkat cadarnya sedikit, tapi belum lepas total.
Risky duduk di sebelahnya, badannya yang tinggi dan berotot membuat kasur sedikit bergoyang. Dia tersenyum santai, tangannya pegang tangan Fatimah pelan—pertama kali sejak nikah. "Gak apa, Istri. Aku gak mau maksa. Kamu kan lagi lewatin masa sulit. Kita pelan-pelan aja. Malam ini... kalau kamu siap, kita bisa mulai sebagai suami istri. Tapi kalau enggak, besok aja."
Fatimah angguk pelan, pipinya merona di balik cadar. "Fatimah siap, Akhi. Ini sunnah Rasul, kan? Fatimah mau jadi istri yang baik buat kamu." Dia tarik napas dalam, lalu pelan-pelan lepas cadarnya sepenuhnya. Wajahnya terlihat jelas sekarang: oval sempurna, kulit putih mulus tanpa noda, mata cokelat besar yang ekspresif, hidung mancung, dan bibir tipis yang alami merah muda. Rambutnya yang biasa tersembunyi di balik hijab, sekarang terurai panjang hitam legam, terawat halus seperti sutra, panjangnya sampai pinggang. Aroma shampo herbal memenuhi kamar.
Risky terdiam sejenak, matanya melebar kaget. "Ya Allah... Fatimah, kamu... cantik banget." Nafsunya langsung berat, badannya panas. Dalam hati, dia bandingkan dengan tiga budak seksnya dulu: Rina dengan tubuh rampingnya yang biasa aja, payudaranya kecil dan kurang kencang; Lisa dengan pantat bulat tapi kulitnya kasar karena sering clubbing; Mia yang mungil tapi masih mentah, gak seindah ini. Fatimah? Jauh di atas mereka. Wajahnya polos tapi mempesona, rambut panjang yang bikin dia pengen raba, dan aura solehah yang bikin nafsu campur hormat. "Kalian kalah telak, girls. Ini istri gue, asli, gak perlu didik," gumamnya dalam hati, senyum miring.
Fatimah malu, tangannya nutup wajah. "Jangan liat gitu, Akhi. Fatimah biasa aja..."
Risky geleng pelan, dekati lebih dekat. "Enggak, kamu luar biasa. Boleh aku sentuh rambutmu?" Fatimah angguk malu-malu. Risky raba rambutnya pelan, halus dan wangi, bikin dia semakin nafsu. Lalu, dia mulai buka kancing abaya Fatimah dari atas, pelan banget, kasih waktu biar dia nyaman. "Kita lambat aja ya. Kalau gak nyaman, bilang stop."
Abaya terlepas, tinggal gamis dalam yang longgar. Fatimah bantu buka sendiri, tubuhnya mulai terlihat: bahu ramping, leher jenjang. Risky cium lehernya pelan, aroma tubuhnya segar. Fatimah menggelinjang, "Akhi... gatal..." Tapi dia gak tolak.
Selanjutnya, gamis dalam dilepas, tinggal bra dan celana dalam sederhana berwarna putih. Tubuh Fatimah bugil hampir total sekarang: payudara sedang bulat sempurna, kencang seperti buah segar, puting merah muda yang belum tersentuh; perut ramping tanpa lemak, pinggang kecil, dan pinggul lebar yang montok. Pantatnya besar bulat, kulit seluruh tubuh putih mulus tanpa bekas. Risky nafasnya memburu, kontolnya yang 20 cm sudah tegang di celana. Dalam hati: "Ini jauh lebih seksi dari Rina yang kurus, Lisa yang vulgar, atau Mia yang childish. Fatimah polos tapi body-nya killer. Ya Allah, ini hadiah."
Fatimah nutup dada malu. "Akhi... jangan liat lama-lama. Fatimah malu..."
Risky tersenyum romantis, peluk dia pelan. "Kamu indah, Fatimah. Aku suamimu, boleh liat. Sekarang giliran aku." Dia lepas bajunya sendiri, badan berototnya terlihat: dada bidang, perut six-pack dari latihan bela diri, lengan kuat. Fatimah melirik malu, pipinya merah. "Akhi... tubuhmu... besar."
Mereka rebahan di kasur, Risky mulai cium keningnya, lalu pipi, lalu turun ke leher. Fatimah mengerang pelan, "Ah... enak, Akhi." Tapi saat Risky mau cium bibir, dia geleng pelan. "Belum... Fatimah masih malu. Nanti aja ya?"
Risky angguk, gak maksa. "Oke, pelan-pelan." Dia lanjut cium dada, tangannya meremas payudara Fatimah pelan, putingnya mengeras. Fatimah menggeliat, "Akhi... itu... aneh tapi enak." Risky turun lagi, lidahnya main di perut rampingnya, lalu ke paha dalam. Fatimah kaku, kakinya rapat. "Akhi... jangan ke situ dulu. Fatimah takut."
"Gak apa, aku gak maksa. Kita mulai dari atas aja," kata Risky santai, balik ke atas. Dia lepas celana dalam Fatimah pelan, melihat area intimnya yang masih perawan: bulu halus rapi, bibir vagina pink sempit, belum pernah tersentuh. Risky nafsu berat, tapi romantis—dia gosok pelan dengan jari, bikin Fatimah basah. "Kamu siap? Aku janji pelan."
Fatimah angguk, matanya nutup malu. "Iya, Akhi. Fatimah perawan, jadi... hati-hati ya."
Risky lepas celananya, kontol besar 20 cm-nya tegang, tebal dengan urat menonjol, tahan lama seperti biasa. Dia posisi missionary dulu, biar romantis. Kontolnya gosok-gosok dulu di luar, bikin Fatimah mengerang, "Ah... besar banget, Akhi. Masuk gak ya?"
"Pelan aja," bisik Risky, cium keningnya. Dia dorong pelan, kepala kontolnya masuk sedikit, Fatimah jerit kecil, "Sakit! Akhi, pelan..." Ada darah sedikit, tanda perawan diambil. Risky berhenti, peluk dia. "Sabar, Sayang. Napas dalam." Fatimah angguk, napasnya stabil. Risky dorong lagi pelan, masuk separuh, vagina Fatimah sempit banget, memeluk kontolnya erat. "Ya Allah... enak sekali," gumam Risky dalam hati, bandingkan lagi: "Rina longgar, Lisa basah tapi gak seketat ini, Mia childish. Fatimah... perfect."
Fatimah kaku, tubuhnya tegang. "Akhi... gerak pelan ya. Fatimah masih belajar." Risky gerak maju mundur lambat, skill seksnya yang luar biasa dia pakai: ritme stabil, tahan lama tanpa buru-buru. Fatimah mulai nikmatin, mengerang pelan, "Ah... sekarang enak, Akhi. Lebih dalam..."
Mereka lanjut intens, Risky angkat kaki Fatimah sedikit biar lebih dalam, tapi Fatimah tolak gaya lain. "Jangan ganti posisi dulu, Akhi. Fatimah masih kaku." Risky oke, lanjut missionary romantis, cium leher dan dada sambil gerak. Fatimah orgasme pertama kali, tubuhnya bergetar, "Ya Allah... apa ini? Enak banget..." Risky tahan, skillnya bikin dia gak cepat finis. Setelah 20 menit, dia finis di dalam, cairan hangat memenuhi.
Mereka rebahan peluk-pelukan, keringat basah. "Terima kasih, Akhi. Itu... indah," bisik Fatimah, kepala di dada Risky.
Risky cium keningnya. "Aku juga, Fatimah. Kamu istri terbaik. Kita ulang lagi nanti, pelan-pelan." Malam itu berakhir romantis, Risky gak maksa lebih, kasih waktu Fatimah adaptasi. Dalam hati, dia senang: "Ini awal baru, lebih baik dari masa lalu gue." Di luar, hujan reda, rumah tenang, tapi gejolak baru mulai di keluarga ini.
Di sebuah rumah besar di pinggiran kota Jakarta, yang dikelilingi taman hijau dan masjid kecil di halaman belakang, hidup sebuah keluarga yang dikenal sangat religius. Keluarga itu dipimpin oleh Ustadz Wahyu, seorang pria berusia 65 tahun yang sudah sepuh tapi masih gagah. Beliau adalah seorang pengusaha sukses di bidang properti halal, dan juga ustadz yang sering memberikan ceramah di masjid-masjid sekitar. Rambutnya sudah memutih, jenggot panjang yang rapi, dan matanya penuh kebijaksanaan. Sayangnya, sejak lama Ustadz Wahyu menderita impotensi, sebuah rahasia keluarga yang hanya diketahui oleh istrinya. Itu membuatnya lebih fokus pada urusan agama dan bisnis, meninggalkan urusan rumah tangga pada istrinya yang setia.
Istrinya, yang dipanggil Umi Aisyah, berusia 47 tahun. Umi Aisyah adalah wanita yang sangat polos dan tertutup, selalu mengenakan cadar hitam yang menutupi wajahnya kecuali matanya yang lembut dan penuh kasih sayang. Pakaiannya longgar, abaya hitam yang menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kaki hingga kepala. Tak ada yang tahu, termasuk anak-anaknya, bahwa di balik kain tebal itu tersembunyi tubuh yang masih seksi: payudara besar dan bulat yang tetap kencang meski usia sudah kepala empat, perut ramping yang hasil dari pola makan sehat dan shalat malam, serta pantat besar yang montok. Umi Aisyah adalah ibu rumah tangga yang taat, selalu memasak makanan halal untuk keluarga, mengajar ngaji anak-anak tetangga, dan mendukung suaminya dalam segala hal. Dia adalah contoh sempurna seorang istri Muslimah yang patuh.
Mereka memiliki dua anak. Yang sulung adalah seorang ukhti berusia 25 tahun bernama Nurul, seorang ustadzah yang cantik dan masih perawan. Nurul tinggal di pesantren di daerah Bogor, mengajar anak-anak santri tentang Al-Quran dan fiqih. Dia jarang pulang ke rumah, hanya saat libur panjang atau acara keluarga besar. Nurul mirip ibunya: bercadar, sopan, dan sangat religius. Wajahnya oval dengan kulit putih bersih, mata hitam yang ekspresif, dan senyum yang hangat. Tubuhnya ramping tapi proporsional, dengan pinggul yang lebar yang tersembunyi di balik jilbab panjangnya. Nurul adalah kebanggaan keluarga, sering disebut-sebut sebagai calon pemimpin pesantren suatu hari nanti.
Anak bungsu mereka adalah Risky, pemuda berusia 20 tahun yang menjadi pusat cerita ini. Risky lahir dan besar di lingkungan Islami yang ketat, tapi dia punya sisi liar yang disembunyikan dengan baik. Tubuhnya tinggi mencapai 185 cm, dengan badan berotot yang dibentuk dari latihan bela diri sejak kecil—dia mahir karate dan silat, bisa mengalahkan lawan dua kali ukurannya. Wajahnya tampan, kulit sawo matang, rahang tegas, dan rambut hitam pendek yang rapi. Tapi yang membuatnya berbeda adalah "aset" pribadinya: kontol sepanjang 20 cm yang tebal dan tahan lama, plus skill seks yang luar biasa yang dia pelajari dari pengalaman diam-diam dengan wanita-wanita di luar rumah. Risky populer di kalangan gadis-gadis nakal di kampusnya—mahasiswa teknik yang pintar tapi suka main. Dia sering diajak kencan oleh cewek-cewek berpakaian ketat, yang tergila-gila dengan pesonanya. Tapi di rumah, dia berpura-pura anak soleh: shalat tepat waktu, baca Quran, dan hormat pada orang tua.
Suatu sore yang cerah, setelah shalat Ashar, keluarga berkumpul di ruang tamu yang sederhana tapi nyaman. Lantai karpet hijau, dinding dihiasi kaligrafi Allah dan Muhammad, dan aroma teh jahe hangat memenuhi udara. Ustadz Wahyu duduk di kursi empuk, memegang tasbih, sementara Umi Aisyah menyajikan camilan kurma dan kue basah. Risky baru pulang dari kampus, masih memakai kemeja putih dan celana panjang, tas ranselnya diletakkan di pojok.
"Assalamu'alaikum, Abi, Umi," sapa Risky sambil mencium tangan ayah dan ibunya secara bergantian.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Duduklah, Abi ada yang mau dibicarakan," kata Ustadz Wahyu dengan suara tenang tapi tegas. Matanya memandang Risky penuh harap.
Umi Aisyah tersenyum di balik cadarnya, matanya berbinar. "Iya, Sayang. Abi sudah lama mikirin ini. Kamu sudah besar, sudah waktunya pikirkan masa depan."
Risky duduk di sofa seberang, hatinya mulai berdegup. Dia tahu ayahnya suka bicara soal tanggung jawab, tapi hari ini terasa berbeda. "Ada apa, Abi? Kayaknya serius banget."
Ustadz Wahyu menghela napas pelan, memutar tasbih di tangannya. "Risky, anakku. Kamu tahu, Abi sudah tua. Bisnis Abi alhamdulillah lancar, tapi Abi ingin lihat kamu settle sebelum Abi pergi. Kamu anak laki-laki satu-satunya, penerus keluarga ini. Abi punya teman lama, Ustadz Ahmad, yang punya anak perempuan bagus. Namanya Fatimah, umurnya 24 tahun. Dia ustadzah di madrasah, bercadar seperti Umi kamu, taat beribadah. Abi pikir, dia cocok buat kamu. Abi mau jodohkan kalian."
Risky terdiam sejenak, matanya melebar. Fatimah? Dia ingat pernah lihat sekilas di acara pengajian keluarga, gadis bercadar yang sopan, selalu menunduk. Tapi umur 24? Lebih tua darinya? "Abi... serius? Aku baru 20 tahun, loh. Masih kuliah, masih banyak yang mau aku lakuin."
Umi Aisyah ikut bicara, suaranya lembut. "Nak, Fatimah orang baik. Dia cantik, pintar, dan religius. Kamu pasti suka kalau kenal lebih dekat. Umi dulu juga dijodohkan sama Abi, dan alhamdulillah bahagia sampai sekarang."
Risky tersenyum paksa, tapi dalam hati dia bergolak. Dia ingat malam kemarin, saat dia habiskan waktu dengan Rina, cewek nakal dari kampus sebelah. Rina yang berpakaian mini, yang suka godain dia di klub malam diam-diam. "Abi, aku hargain niat Abi. Tapi... aku masih muda. Aku populer di kampus, banyak teman cewek yang suka ngajak jalan. Aku mau nikmatin hidup dulu, explore dunia. Nikah sekarang? Kayaknya terlalu cepat."
Ustadz Wahyu menggeleng pelan, tapi tetap tenang. "Itu yang Abi khawatirkan, Nak. Dunia luar banyak godaan. Wanita-wanita nakal itu bukan untuk kamu. Fatimah bisa bantu kamu tetap di jalan yang benar. Dia sebenarnya cantik sekali, tubuhnya... eh, maksud Abi, dia sehat dan solehah. Kamu bisa ketemu dulu, bicara-bicara. Abi sudah janji sama Ustadz Ahmad, besok malam kita makan malam bareng keluarga mereka."
Risky mengangguk pelan, tapi pikirannya melayang. Dia bayangkan Fatimah tanpa cadar—mungkin wajahnya oval, bibir tebal, dan tubuh yang seksi tersembunyi di balik abaya. Tapi itu bukan poinnya. Poinnya adalah kebebasan. Dia suka jadi pusat perhatian wanita-wanita liar, yang suka bilang, "Risky, kamu kuat banget," setelah malam panas. Skillnya di ranjang, kontol besar yang bikin mereka mengerang, bela dirinya yang bikin dia percaya diri. Nikah sekarang berarti akhir dari semua itu? Dia masih ingin main, masih ingin rasain petualangan masa muda. "Baik, Abi. Aku coba ketemu dulu. Tapi jangan paksa ya."
Umi Aisyah memegang tangan Risky. "InsyaAllah, Nak. Ini yang terbaik buat kamu. Kak Nurul juga dukung, kemarin Umi telepon dia di pesantren. Dia bilang, 'Risky butuh pendamping yang bisa jagain dia dari fitnah.'"
Risky tertawa kecil, berusaha santai. "Kak Nurul emang selalu bijak. Oke, Umi. Aku siap besok. Tapi sekarang aku capek, mau istirahat dulu."
Saat Risky naik ke kamarnya, hatinya masih bergolak. Dia lempar tubuhnya ke kasur, memandang langit-langit. "Nikah? Di umur 20? Aku masih pengen bebas, pengen rasain cewek-cewek lain. Fatimah mungkin oke, tapi aku gak mau terikat dulu." Dia ingat pesan masuk di ponselnya dari Lisa, cewek clubbing yang suka kirim foto seksi. "Besok malam ketemu lagi ya, sayang. Aku kangen badanmu yang berotot itu." Risky tersenyum miring, tapi ada rasa bersalah. Keluarganya religius, ayahnya ustadz, ibunya polos. Tapi dia? Dia punya sisi gelap yang enak. Apa dia bisa ubah itu demi perjodohan ini?
Malam itu, saat shalat Maghrib, Risky berdoa dalam hati. "Ya Allah, beri aku petunjuk. Aku mau taat sama Abi, tapi hati ini masih ingin bebas." Di luar kamar, Umi Aisyah memasak makan malam, tak sadar bahwa anaknya sedang berjuang dengan gejolak nafsu mudanya. Sementara Ustadz Wahyu menelepon Ustadz Ahmad, mengonfirmasi pertemuan besok. Cerita ini baru dimulai, dan Risky belum tahu bahwa perjodohan ini akan membuka pintu-pintu rahasia yang tak terduga dalam hidupnya.
Part 2
Besok malamnya, suasana di rumah Ustadz Ahmad sudah ramai dengan persiapan makan malam. Rumah mereka di kawasan Depok, tidak jauh dari Jakarta, mirip rumah keluarga Risky: sederhana tapi luas, dengan halaman depan yang ditanami pohon kurma dan ruang tamu yang dihiasi karpet mushola. Ustadz Ahmad, ayah Fatimah, sudah sepuh seperti Ustadz Wahyu, usianya 67 tahun. Beliau ustadz pensiunan yang sekarang lebih banyak mengajar di rumah, tubuhnya kurus tapi tegap, jenggot putih panjang, dan matanya tajam penuh pengalaman hidup. Dia sangat taat, dan Fatimah, anak sulungnya, selalu nurut pada perintah ayahnya. Fatimah memang gadis solehah, 24 tahun, ustadzah di madrasah setempat, selalu bercadar hitam yang menutupi wajah cantiknya—kulit putih mulus, mata cokelat besar yang ekspresif, hidung mancung, dan bibir tipis yang jarang tersenyum lebar. Tubuhnya sebenarnya seksi: tinggi 165 cm, payudara sedang tapi bulat sempurna, pinggang ramping, dan pinggul lebar yang membuat abayanya sedikit bergoyang saat berjalan. Tapi semuanya tertutup rapat, membuatnya terlihat polos dan tertutup seperti ibunya.
Ibu Fatimah, yang dipanggil Umi Siti, berusia 48 tahun. Mirip Umi Aisyah, dia bercadar dan mengenakan gamis lebar berwarna hitam yang longgar, menyembunyikan tubuh cantiknya yang masih terawat: wajah oval dengan kulit cerah, payudara sedang tapi bulat dan kencang seperti buah matang, perut ramping hasil dari puasa sunnah rutin, dan pantat besar yang montok. Umi Siti adalah ibu rumah tangga yang ramah, suka memasak hidangan Arab seperti kebab dan hummus untuk acara keluarga. Dia jarang bicara banyak, lebih suka mendengarkan suaminya.
Adik Fatimah, namanya Zahra, baru 17 tahun, masih SMA di sekolah Islam. Zahra gadis cantik bercadar seperti kakaknya, tubuhnya sedikit mungil dengan tinggi 155 cm, kulit putih bersih, mata hitam yang polos, dan senyum manis yang malu-malu. Tubuhnya khas ABG: ramping tapi mulai berbentuk, payudara kencang yang kecil tapi proporsional, dan pantat bulat yang membuat celana panjangnya sedikit ketat di bagian belakang meski ditutupi jilbab panjang. Zahra pendiam, suka baca buku agama dan main piano Islami di kamarnya. Dia ikut dalam pertemuan ini karena ayahnya ingin seluruh keluarga hadir.
Keluarga Risky tiba tepat setelah Maghrib, mobil mereka parkir di halaman depan. Ustadz Wahyu turun duluan, diikuti Umi Aisyah yang berjalan pelan dengan cadarnya, lalu Risky yang memakai kemeja putih panjang dan celana kain hitam, tampan seperti biasa dengan tubuh berototnya yang terlihat samar di balik baju. Risky merasa gugup, tapi berusaha santai. Dia belum terlalu perhatikan Umi Siti saat masuk, fokusnya lebih ke Fatimah yang dia tahu akan jadi calonnya.
"Assalamu'alaikum, Ahmad sahabatku," sapa Ustadz Wahyu sambil memeluk Ustadz Ahmad di pintu depan. Kedua orang tua itu saling tersenyum, mata mereka penuh kenangan.
"Wa'alaikumsalam, Wahyu. Alhamdulillah, akhirnya kita bisa kumpul lagi. Masuklah, masuk," balas Ustadz Ahmad dengan suara hangat. Dia mempersilakan mereka masuk ke ruang tamu yang sudah disiapkan meja makan sederhana: nasi mandi, ayam goreng, dan sayur asam.
Umi Aisyah saling salam dengan Umi Siti, keduanya mencium pipi di balik cadar. "Umi Siti, apa kabar? Lama tak jumpa," kata Umi Aisyah lembut.
"Alhamdulillah baik, Umi Aisyah. Anak-anak sehat? Ini Fatimah dan Zahra, kenalkan," jawab Umi Siti sambil menunjuk putrinya. Fatimah dan Zahra berdiri sopan, menunduk sambil mengucap salam.
Risky ikut salam, mencium tangan Ustadz Ahmad dan Umi Siti secara cepat, tanpa benar-benar perhatikan Umi Siti—pikirannya masih penuh keraguan. Lalu dia berhadapan dengan Fatimah. "Assalamu'alaikum, Ukhti Fatimah," sapa Risky pelan, matanya mencoba menangkap ekspresi di balik cadar.
"Wa'alaikumsalam, Akhi Risky," balas Fatimah dengan suara halus, matanya menunduk. Zahra di sampingnya hanya tersenyum malu, "Assalamu'alaikum," katanya singkat.
Mereka semua duduk di sekitar meja makan setelah shalat Isya berjamaah di mushola rumah. Suasana hangat, aroma makanan menggoda. Ustadz Wahyu memulai pembicaraan sambil menyendok nasi. "Ahmad, ingat gak dulu waktu kita sama-sama mondok di pesantren? Kamu yang selalu jagain aku dari godaan anak-anak kampung. Haha, sekarang anak kita yang kita jodohkan. Ini pasti takdir Allah."
Ustadz Ahmad tertawa kecil, memutar tasbih di tangannya. "Ingat banget, Wahyu. Waktu itu kita janji, kalau punya anak, kita satukan keluarga. Fatimah ini anak baik, dia nurut sama Abi. Dia sudah siap kalau ini jalan terbaik. Gimana, Fatimah?"
Fatimah mengangguk pelan, suaranya tenang tapi patuh. "Iya, Abi. Kalau Abi bilang ini baik, Fatimah ikut. InsyaAllah, Akhi Risky orang soleh seperti yang Abi ceritain."
Risky tersenyum paksa, hatinya masih bergolak. Dia lihat Fatimah sekilas—dia memang cantik dari matanya yang terlihat, tapi pikirannya melayang ke kebebasannya. "Alhamdulillah, Ukhti. Tapi... aku masih kuliah, banyak tugas. Abi Wahyu cerita banyak soal Ukhti, pasti orang baik."
Umi Siti ikut bicara, suaranya ramah. "Risky, Nak. Fatimah ini suka masak, bisa bantu kamu di rumah nanti. Zahra juga, dia adiknya, bisa belajar dari kakaknya. Keluarga kami sederhana, tapi insyaAllah bisa bahagiain kamu."
Zahra hanya mengangguk, matanya melirik Risky penasaran tapi cepat menunduk lagi. Risky balas senyum ke Zahra, "Iya, Ukhti Zahra. Kamu masih sekolah ya? Semangat belajarnya."
Pembicaraan berlanjut ke cerita lama. Ustadz Ahmad cerita, "Dulu, Wahyu, kita pernah selamat dari banjir besar di pesantren karena saling bantu. Itu yang bikin persahabatan kita kuat. Sekarang, lewat anak-anak, kita lanjutkan silaturahmi ini."
Ustadz Wahyu mengangguk setuju. "Benar, Ahmad. Risky ini anak pintar, bisnis Abi dia yang kelola nanti. Dia kuat bela diri juga, bisa jagain Fatimah. Gimana, Risky? Kamu setuju kan?"
Risky terdiam sejenak, mengaduk makanannya. Semua mata tertuju padanya. Dia ragu—bayangkan kalau nikah sekarang, goodbye petualangan malam dengan cewek-cewek kampus. Tapi dia tak mau kecewakan ayahnya di depan orang. "Abi... alhamdulillah, ini kehormatan besar. Ukhti Fatimah pasti calon istri yang baik. Tapi aku minta waktu dulu, ya? Biar aku istikharah dan pikir matang-matang. Mungkin seminggu atau dua minggu?"
Ustadz Wahyu menghela napas, tapi tersenyum. "Baiklah, Nak. Abi paham kamu masih muda. Tapi jangan lama-lama, ya. Ahmad, gimana?"
Ustadz Ahmad mengangguk bijak. "Gak apa-apa, Wahyu. Biar anak-anak kenal dulu. Fatimah, kamu oke kan?"
"Iya, Abi. Fatimah tunggu jawaban Akhi Risky," kata Fatimah patuh, meski ada sedikit rasa penasaran di matanya.
Umi Aisyah dan Umi Siti saling pandang, senang dengan kemajuan. Zahra diam saja, tapi diam-diam dia perhatikan Risky yang tampan dan berotot itu. Risky sendiri, saat pulang nanti, masih ragu. Di mobil, dia diam, pikirannya penuh gejolak. Pertemuan ini seharusnya sederhana, tapi entah kenapa, dia mulai perhatikan hal-hal kecil—like senyum malu Zahra atau suara lembut Umi Siti yang baru dia sadari saat pamitan. Tapi untuk sekarang, dia butuh waktu. Cerita ini masih panjang, dan rahasia-rahasia mulai terbuka pelan-pelan.
Part 3
Beberapa hari setelah pertemuan makan malam itu, Risky masih bergumul dengan keraguannya. Di kamarnya, dia memandang ponsel yang penuh pesan dari cewek-cewek kenalannya. "Kenapa harus buru-buru nikah? Aku masih muda, masih pengen bebas," gumamnya dalam hati. Akhirnya, dia putuskan untuk manfaatkan waktu "berpikir" yang dia minta itu dengan cara yang paling enak baginya: menikmati masa mudanya dengan para "budak seks" yang sudah dia didik selama ini. Risky punya tiga cewek tetap yang dia kenal dari kampus dan circle malam: Rina, cewek 21 tahun yang nakal dengan tubuh ramping dan payudara kecil tapi sensitif; Lisa, 22 tahun, berambut panjang hitam, pantat bulat yang suka digoyang; dan Mia, 19 tahun, ABG kampus yang polos di depan tapi liar di ranjang, dengan kulit putih dan kaki panjang. Ketiganya sudah Risky latih jadi nurut total—mereka panggil dia "Master" di kamar, siap lakuin apa aja demi kontol besar 20 cm-nya yang tahan lama dan skill seksnya yang bikin mereka ketagihan.
Malam pertama, Risky ajak Rina ke apartemen kecil yang dia sewa diam-diam di pusat kota. "Rina, malam ini kamu harus nurut total, ya? Gak ada nolak," pesan Risky lewat chat. Rina balas langsung, "Iya, Master. Aku siap digoyang sampe pagi." Saat ketemu, Rina sudah pakai lingerie merah tipis, tubuhnya gemetar excited. Risky dorong dia ke dinding, cium lehernya sambil tangannya meremas payudaranya yang kencang. "Kamu budakku, ingat? Bilang 'terima kasih' setiap aku kasih kenikmatan," perintah Risky dengan suara dalam. Rina mengerang, "Terima kasih, Master..." Risky angkat kakinya, masukkan kontolnya yang sudah tegang, dan mulai gerak lambat tapi dalam, bikin Rina bergetar. Skillnya luar biasa—dia tahu spot mana yang bikin ceweknya orgasme berkali-kali. Malam itu, mereka lakuin posisi doggy, cowgirl, sampe Rina lemas di kasur, badannya basah keringat. "Master, aku gak bisa tanpa kamu," bisik Rina saat tidur di pelukannya.
Besoknya, giliran Lisa. Mereka ketemu di hotel murah tapi nyaman. Lisa, yang biasa clubbing, sudah didik Risky jadi submissive total. "Master, hari ini aku mau diikat," katanya sambil tunjuk tali yang dia bawa. Risky tersenyum miring, ikat tangan Lisa ke ranjang, lalu mulai godain dengan lidahnya di seluruh tubuhnya—dari leher, payudara, sampe ke bawah. Kontolnya yang besar dia gosok-gosok dulu biar Lisa minta-minta. "Mohon, Master... masukin sekarang," rengek Lisa. Risky masuk pelan, lalu percepat ritme, tahan lama sampe Lisa orgasme tiga kali. Tubuh berototnya yang dari bela diri bikin dia kuat angkat Lisa dan lakuin standing position. "Kamu milikku, Lisa. Gak boleh sama cowok lain," kata Risky sambil finis di dalamnya. Lisa angguk lemas, "Iya, Master. Hanya kamu."
Hari ketiga, Mia yang termuda. Mereka ketemu di mobil Risky di pinggir danau malam-malam. Mia masih polos di luar, tapi Risky sudah ajarin dia jadi budak yang haus. "Master, aku kangen kontol besar kamu," katanya sambil buka baju sendiri. Risky parkir mobil, lalu dorong kursi belakang, mulai dengan oral—Mia nurut hisap kontolnya sampe dalam, seperti yang Risky ajarin. Lalu Risky balik, lidahnya main di area sensitif Mia sampe dia mengerang keras. "Sst, jangan keras-keras, Mia. Ini rahasia kita," bisik Risky. Dia masuk dari belakang, kontol 20 cm-nya bikin Mia bergetar, skillnya bikin dia tahan 30 menit tanpa berhenti. Mia orgasme berkali-kali, badannya mungil bergoyang di pelukan Risky yang kuat. "Terima kasih, Master. Aku budakmu selamanya," kata Mia saat mereka istirahat, bintang-bintang di atas mereka.
Risky puas banget selama tiga hari itu. "Ini yang gue mau, bebas tanpa ikatan," pikirnya. Tapi keesokan harinya, saat dia lagi santai di rumah, ponsel berdering. Itu dari Umi Aisyah. "Risky, Nak! Cepat pulang! Ada kabar buruk dari keluarga Fatimah."
Risky buru-buru pulang. Di ruang tamu, Ustadz Wahyu duduk dengan wajah murung, tasbih di tangan berputar cepat. Umi Aisyah mata merah, seperti habis nangis. "Ada apa, Abi? Umi?" tanya Risky gugup, duduk di sebelah mereka.
Ustadz Wahyu menghela napas panjang. "Anakku, Ustadz Ahmad... ayah Fatimah, kesehatannya menurun drastis. Gula darahnya naik tinggi, ditambah penyakit jantung yang lama diderita. Tadi pagi masuk rumah sakit, kondisinya kritis. Dokter bilang mungkin gak lama lagi."
Umi Aisyah ikut bicara, suaranya gemetar. "Umi Siti telepon tadi, Nak. Mereka sedih banget. Ustadz Ahmad minta satu hal sebelum... sebelum dia pergi: lihat Fatimah menikah. Dia bilang, 'Wahyu, tolong percepat pernikahan anak-anak kita. Ini wasiat saya.'"
Risky terdiam, hatinya campur aduk. Dia baru aja nikmatin "kebebasan", tapi sekarang ini? "Abi... aku belum siap. Maksudnya, aku hargain, tapi..."
Ustadz Wahyu memandang tajam, tapi penuh kasih. "Risky, ini bukan soal siap atau enggak. Ini soal amanah. Ustadz Ahmad sahabat Abi seumur hidup. Dia lagi sekarat, Nak. Kalau kita tunda, bisa-bisa dia pergi tanpa lihat Fatimah bahagia. Kamu anak soleh, kan? Pikirkan akhiratmu."
Umi Aisyah pegang tangan Risky. "Nak, Umi tahu kamu masih muda. Tapi Fatimah orang baik, dia bisa bantu kamu. Zahra adiknya juga bilang, kakaknya nunggu jawabanmu. Jangan kecewakan mereka, ya?"
Risky geleng-geleng pelan, tapi desakan itu bikin dia terpaksa. "Baiklah, Abi. Aku iyain. Tapi... gimana caranya? Pernikahan sekarang?"
Ustadz Wahyu angguk. "InsyaAllah, kita lakukan di rumah sakit. Ustadz Ahmad yang jadi wali langsung, meski dari tempat tidur. Besok pagi kita ke sana. Abi sudah hubungi penghulu dan saksi."
Malam itu, Risky gak bisa tidur. Dia chat Kak Nurul di pesantren. "Kak, aku terpaksa nikah besok. Abi Fatimah sakit parah." Nurul balas, "Risky, ini ujian. Nikah itu sunnah, insyaAllah berkah. Kak doain kamu."
Keesokan paginya, di rumah sakit swasta di Depok, suasana hening tapi penuh haru. Ustadz Ahmad terbaring di ranjang ICU, oksigen di hidung, wajah pucat tapi mata berbinar saat lihat Risky dan keluarga datang. Fatimah di samping ayahnya, cadarnya basah air mata. Umi Siti dan Zahra juga ada, Zahra pegang tangan kakaknya.
"Assalamu'alaikum, Ustadz Ahmad," sapa Risky pelan, cium tangan orang tua itu.
"Wa'alaikumsalam, Nak. Alhamdulillah kamu datang. Abi... lemah, tapi Abi mau lihat ini," kata Ustadz Ahmad dengan suara parau, napasnya pendek.
Penghulu datang, saksi-saksi siap. Mereka kumpul di ruang kecil di sebelah ICU, dengan Ustadz Ahmad ikut via video call dari ranjangnya. Fatimah duduk di sebelah Risky, matanya menunduk. "Ukhti, maaf kalau ini mendadak," bisik Risky.
Fatimah angguk pelan. "Gak apa, Akhi. Ini kehendak Allah. Fatimah ikhlas."
Penghulu mulai ijab qabul. Ustadz Ahmad, sebagai wali, bicara lewat speaker: "Risky bin Wahyu, aku nikahkan engkau dengan anakku Fatimah binti Ahmad, dengan mas kawin Al-Quran satu set dan uang tunai sepuluh juta rupiah, dibayar tunai."
Risky tarik napas dalam, hatinya masih ragu tapi terpaksa. "Saya terima nikahnya Fatimah binti Ahmad dengan mas kawin tersebut, tunai."
Semua bilang "Sah!" Ustadz Ahmad tersenyum lemah. "Alhamdulillah... Fatimah, Nak, jaga suamimu. Risky, jagalah anakku."
Umi Aisyah dan Umi Siti saling peluk, air mata bahagia. Zahra bisik ke Fatimah, "Kak, selamat ya. Akhi Risky tampan banget."
Setelah itu, mereka pulang. Di mobil, Ustadz Wahyu tepuk bahu Risky. "Kamu lakuin yang benar, Nak. Sekarang, bawa Fatimah ke rumah kita besok. Mulai hidup baru."
Risky angguk, tapi dalam hati: "Aku nikah sekarang? Kebebasanku hilang?" Tapi dia lihat Fatimah di belakang, yang sekarang istrinya, dan mulai pikir mungkin ini awal petualangan baru. Cerita rumah tangga mereka baru dimulai, dengan rahasia-rahasia yang menunggu terungkap.
Part 4
Malam itu, setelah ijab qabul di rumah sakit, suasana pulang ke rumah keluarga Risky terasa berat. Fatimah dibawa pulang oleh Umi Siti dan Zahra sementara, tapi karena sudah sah sebagai istri, dia akhirnya ikut ke rumah Risky untuk malam pertama—meski tak ada pesta atau apa pun. Ustadz Wahyu dan Umi Aisyah sudah siapkan kamar khusus untuk mereka, kamar tamu yang luas dengan kasur king size, tirai tebal, dan lampu temaram. Risky masuk duluan, meletakkan tas kecil Fatimah di pojok. Fatimah mengikuti pelan, cadarnya masih basah air mata, tubuhnya bergetar pelan karena syok dengan hari yang penuh emosi: pernikahan mendadak dan kondisi ayahnya yang kritis.
"Ukhti... eh, maksudku, Fatimah. Kamu istirahat aja dulu. Aku tidur di sofa ini," kata Risky santai, suaranya pelan sambil nunjuk sofa panjang di sudut kamar. Dia gak mau ganggu, tahu Fatimah lagi syok berat. Pikirannya pasti campur aduk: senang nikah, tapi khawatir ayahnya.
Fatimah duduk di pinggir kasur, tangannya memegang ujung abayanya erat. Matanya menunduk, suaranya hampir bisik. "Terima kasih, Akhi. Fatimah... masih gak percaya hari ini. Abi... kondisinya..."
Risky angguk, duduk di sofa sambil lepas sepatu. "Iya, aku ngerti. Hari ini mendadak banget. Kamu tidur aja, biar besok kita liat kabar Abi kamu. Aku gak akan ganggu, janji."
Suasana kamar jadi sunyi sepi. Hanya suara jam dinding tik-tok samar, dan angin malam yang hembus lewat jendela. Fatimah pelan-pelan rebahan, masih pakai cadar dan abaya, gak berani buka karena malu dan syok. Risky matiin lampu utama, tinggal lampu tidur kecil yang kuning redup. Dia rebahan di sofa, pikirannya melayang. "Gila, gue baru nikah. Tapi dia lagi syok, gue gak bakal maksa apa-apa. Besok aja deh," gumamnya dalam hati. Malam itu berlalu tanpa kata-kata lagi, hanya napas pelan Fatimah yang sesekali tersendat, dan Risky yang gak bisa tidur nyenyak, memandang langit-langit sambil mikir kebebasannya yang hilang.
Pagi harinya, suasana rumah masih tenang. Umi Aisyah bangunin mereka untuk shalat Subuh, lalu sarapan bareng. Fatimah lebih tenang sedikit, meski matanya bengkak. "Alhamdulillah, Akhi. Semalam Fatimah bisa istirahat," katanya pelan saat mereka duduk di meja makan.
Risky tersenyum kecil, badannya yang berotot terlihat samar di balik kaos putih. "Baguslah. Hari ini kita ke rumah sakit yuk, liat Abi kamu. Aku anterin."
Ustadz Wahyu angguk setuju. "Iya, Nak. Abi doain Ustadz Ahmad cepat sembuh. Kalian sekarang suami istri, harus saling jaga."
Tapi sebelum mereka berangkat, ponsel Umi Aisyah berdering. Itu dari Umi Siti. Umi Aisyah angkat, wajahnya langsung pucat. "Innalillahi... ya Allah..." gumamnya, air mata mengalir. Semua mata tertuju padanya.
"Ada apa, Umi?" tanya Risky cepat, berdiri.
Umi Aisyah tutup telepon, suaranya gemetar. "Ustadz Ahmad... ayah Fatimah... baru saja meninggal dunia. Tadi subuh, gula darahnya naik lagi, jantungnya berhenti. Innalillahi wa inna ilaihi raji'un."
Fatimah langsung ambruk, menangis tersedu. "Abi... Abi..." Zahra, yang ternyata ikut telepon dari sana, pasti lagi hancur juga. Risky langsung dekati Fatimah, pegang bahunya pelan—pertama kali dia sentuh istrinya. "Sabar, Fatimah. Kita ke sana sekarang."
Ustadz Wahyu bacain istighfar, matanya merah. "Ini ujian dari Allah. Kita harus kuat. Risky, kamu sekarang kepala keluarga baru untuk Fatimah. Abi percayain kamu."
Beberapa jam kemudian, di rumah Fatimah di Depok, suasana penuh duka. Jenazah Ustadz Ahmad sudah dimandikan dan disholatkan di masjid dekat rumah. Keluarga berkumpul di ruang tamu, Umi Siti duduk lemas di sofa, cadarnya basah, Zahra di sampingnya menangis pelan. Fatimah langsung peluk ibunya saat tiba. "Umi... Abi pergi beneran..."
Umi Siti peluk Fatimah erat. "Iya, Nak. Abi pergi dengan tenang, setelah liat kamu nikah. Itu wasiat terakhirnya."
Risky berdiri di pojok, bela dirinya yang kuat sekarang terasa berguna untuk jaga keluarga ini. Ustadz Wahyu tarik Risky ke samping. "Nak, sekarang situasinya beda. Keluarga Fatimah gak ada laki-laki lagi. Umi Siti, Fatimah, dan Zahra butuh pelindung. Kamu harus pindah ke sini, jaga mereka. Bisnis Abi bisa kamu kelola dari mana aja, rumah ini deket kota."
Risky terkejut, tapi tahu ini terpaksa. "Abi... iya, aku paham. Aku gak bisa biarin mereka sendirian. Tapi aku belum siap banget..."
Umi Aisyah ikut bicara, suaranya lembut. "Ini tanggung jawabmu sekarang, Risky. Fatimah istrimu, Umi Siti mertuamu, Zahra iparmu. Kamu laki-laki kuat, bisa bela diri, bisa jaga mereka dari apa aja. Umi doain kalian bahagia."
Akhirnya, sore itu juga, Risky putuskan pindah. Dia bawa barang-barang penting dari rumah lamanya, termasuk baju, laptop, dan perlengkapan bela dirinya. Rumah Fatimah cukup luas, kamar utama sekarang untuk dia dan Fatimah, sementara Umi Siti dan Zahra di kamar masing-masing. Malam pertama di rumah baru, setelah pemakaman, suasana masih duka. Mereka shalat Maghrib bareng, lalu makan malam sederhana yang dimasak Umi Siti.
Di kamar, Risky dan Fatimah lagi-lagi sunyi. Fatimah duduk di kasur, melepas cadarnya untuk pertama kali di depan Risky—wajahnya cantik, mata cokelat besar, bibir tipis, kulit putih mulus. "Akhi... terima kasih udah mau pindah ke sini. Fatimah tahu ini mendadak buat kamu."
Risky duduk di sebelahnya, jaga jarak. "Gak apa, Fatimah. Aku suamimu sekarang, tugasku jaga kamu, Umi, dan Zahra. Abi kamu pasti ingin gitu. Kamu... masih syok ya?"
Fatimah angguk, air mata mengalir lagi. "Iya... Abi pergi cepat banget. Tapi alhamdulillah, dia sempat walikan kita. Sekarang... kita harus mulai hidup baru."
Di luar kamar, Umi Siti dan Zahra ngobrol pelan di ruang tamu. "Umi, Akhi Risky orang baik ya? Dia tinggi, berotot, pasti bisa jaga kita," kata Zahra malu-malu, tubuh mungilnya meringkuk di sofa.
Umi Siti tersenyum lemah. "Iya, Nak. Allah kasih kita pelindung baru. Kamu harus hormat sama kakak iparmu itu. Jangan ganggu dia dan Fatimah."
Keesokan harinya, Risky mulai adaptasi. Pagi-pagi dia latihan bela diri di halaman belakang, badannya berkeringat, ototnya menonjol. Zahra ngintip dari jendela, matanya penasaran. "Wah, Akhi kuat banget," gumamnya.
Fatimah keluar bawa teh. "Akhi, minum dulu. Fatimah masakin sarapan. Umi lagi istirahat, dia capek."
Risky ambil teh, tersenyum. "Makasih, Istri. Eh, maksudku Fatimah. Kita pelan-pelan aja ya, gak usah buru-buru. Aku janji jaga kalian semua."
Umi Siti ikut keluar, suaranya ramah. "Risky, Nak. Terima kasih ya. Rumah ini sekarang aman sama kamu. Kalau ada apa-apa, bilang aja ke Umi."
Risky angguk, hatinya mulai terbiasa. "Iya, Umi. Aku di sini sekarang, keluarga kita." Dalam hati, dia masih ingat masa mudanya yang liar, tapi tanggung jawab ini bikin dia mikir ulang. Mungkin, di rumah ini, ada petualangan baru yang menunggu—dengan Fatimah yang mulai buka hati, Umi Siti yang butuh dukungan, dan Zahra yang polos. Cerita mereka baru mulai, penuh rahasia dan gejolak.
Part 5
Beberapa hari setelah pemakaman Ustadz Ahmad, suasana di rumah mulai sedikit tenang. Duka masih menyelimuti, tapi kehidupan harus berlanjut. Umi Siti lebih banyak diam di kamarnya, shalat dan dzikir untuk menguatkan hati. Zahra kembali ke sekolah, meski matanya sering merah karena ingat ayahnya. Fatimah, sebagai anak sulung dan sekarang istri Risky, mulai bisa tersenyum kecil saat ngobrol dengan Risky. Mereka belum lakukan apa-apa sebagai suami istri—Risky kasih waktu, gak mau maksa. Dia sibuk urus bisnis ayahnya dari rumah, latihan bela diri di pagi hari, dan jaga keluarga baru ini. Malam-malam sebelumnya, mereka tidur di kasur yang sama tapi dengan jarak, Fatimah masih pakai cadar bahkan di kamar, dan Risky tidur di pinggir sambil ngobrol santai tentang hari mereka.
Suatu malam, setelah shalat Isya, hujan deras di luar membuat rumah terasa lebih intim. Umi Siti dan Zahra sudah tidur lebih dulu, capek setelah seharian membersihkan rumah. Risky dan Fatimah masuk ke kamar mereka—kamar utama yang dulu milik orang tua Fatimah, sekarang direnovasi sederhana dengan kasur besar, lampu temaram, dan aroma minyak kayu putih yang menenangkan. Fatimah duduk di pinggir kasur, melepas sepatu rumahnya pelan. Matanya sudah tak lagi bengkak, meski masih ada bayang duka.
"Akhi... Fatimah udah lebih tenang sekarang. Terima kasih ya, kamu sabar banget nungguin," kata Fatimah pelan, suaranya lembut seperti biasa. Dia angkat cadarnya sedikit, tapi belum lepas total.
Risky duduk di sebelahnya, badannya yang tinggi dan berotot membuat kasur sedikit bergoyang. Dia tersenyum santai, tangannya pegang tangan Fatimah pelan—pertama kali sejak nikah. "Gak apa, Istri. Aku gak mau maksa. Kamu kan lagi lewatin masa sulit. Kita pelan-pelan aja. Malam ini... kalau kamu siap, kita bisa mulai sebagai suami istri. Tapi kalau enggak, besok aja."
Fatimah angguk pelan, pipinya merona di balik cadar. "Fatimah siap, Akhi. Ini sunnah Rasul, kan? Fatimah mau jadi istri yang baik buat kamu." Dia tarik napas dalam, lalu pelan-pelan lepas cadarnya sepenuhnya. Wajahnya terlihat jelas sekarang: oval sempurna, kulit putih mulus tanpa noda, mata cokelat besar yang ekspresif, hidung mancung, dan bibir tipis yang alami merah muda. Rambutnya yang biasa tersembunyi di balik hijab, sekarang terurai panjang hitam legam, terawat halus seperti sutra, panjangnya sampai pinggang. Aroma shampo herbal memenuhi kamar.
Risky terdiam sejenak, matanya melebar kaget. "Ya Allah... Fatimah, kamu... cantik banget." Nafsunya langsung berat, badannya panas. Dalam hati, dia bandingkan dengan tiga budak seksnya dulu: Rina dengan tubuh rampingnya yang biasa aja, payudaranya kecil dan kurang kencang; Lisa dengan pantat bulat tapi kulitnya kasar karena sering clubbing; Mia yang mungil tapi masih mentah, gak seindah ini. Fatimah? Jauh di atas mereka. Wajahnya polos tapi mempesona, rambut panjang yang bikin dia pengen raba, dan aura solehah yang bikin nafsu campur hormat. "Kalian kalah telak, girls. Ini istri gue, asli, gak perlu didik," gumamnya dalam hati, senyum miring.
Fatimah malu, tangannya nutup wajah. "Jangan liat gitu, Akhi. Fatimah biasa aja..."
Risky geleng pelan, dekati lebih dekat. "Enggak, kamu luar biasa. Boleh aku sentuh rambutmu?" Fatimah angguk malu-malu. Risky raba rambutnya pelan, halus dan wangi, bikin dia semakin nafsu. Lalu, dia mulai buka kancing abaya Fatimah dari atas, pelan banget, kasih waktu biar dia nyaman. "Kita lambat aja ya. Kalau gak nyaman, bilang stop."
Abaya terlepas, tinggal gamis dalam yang longgar. Fatimah bantu buka sendiri, tubuhnya mulai terlihat: bahu ramping, leher jenjang. Risky cium lehernya pelan, aroma tubuhnya segar. Fatimah menggelinjang, "Akhi... gatal..." Tapi dia gak tolak.
Selanjutnya, gamis dalam dilepas, tinggal bra dan celana dalam sederhana berwarna putih. Tubuh Fatimah bugil hampir total sekarang: payudara sedang bulat sempurna, kencang seperti buah segar, puting merah muda yang belum tersentuh; perut ramping tanpa lemak, pinggang kecil, dan pinggul lebar yang montok. Pantatnya besar bulat, kulit seluruh tubuh putih mulus tanpa bekas. Risky nafasnya memburu, kontolnya yang 20 cm sudah tegang di celana. Dalam hati: "Ini jauh lebih seksi dari Rina yang kurus, Lisa yang vulgar, atau Mia yang childish. Fatimah polos tapi body-nya killer. Ya Allah, ini hadiah."
Fatimah nutup dada malu. "Akhi... jangan liat lama-lama. Fatimah malu..."
Risky tersenyum romantis, peluk dia pelan. "Kamu indah, Fatimah. Aku suamimu, boleh liat. Sekarang giliran aku." Dia lepas bajunya sendiri, badan berototnya terlihat: dada bidang, perut six-pack dari latihan bela diri, lengan kuat. Fatimah melirik malu, pipinya merah. "Akhi... tubuhmu... besar."
Mereka rebahan di kasur, Risky mulai cium keningnya, lalu pipi, lalu turun ke leher. Fatimah mengerang pelan, "Ah... enak, Akhi." Tapi saat Risky mau cium bibir, dia geleng pelan. "Belum... Fatimah masih malu. Nanti aja ya?"
Risky angguk, gak maksa. "Oke, pelan-pelan." Dia lanjut cium dada, tangannya meremas payudara Fatimah pelan, putingnya mengeras. Fatimah menggeliat, "Akhi... itu... aneh tapi enak." Risky turun lagi, lidahnya main di perut rampingnya, lalu ke paha dalam. Fatimah kaku, kakinya rapat. "Akhi... jangan ke situ dulu. Fatimah takut."
"Gak apa, aku gak maksa. Kita mulai dari atas aja," kata Risky santai, balik ke atas. Dia lepas celana dalam Fatimah pelan, melihat area intimnya yang masih perawan: bulu halus rapi, bibir vagina pink sempit, belum pernah tersentuh. Risky nafsu berat, tapi romantis—dia gosok pelan dengan jari, bikin Fatimah basah. "Kamu siap? Aku janji pelan."
Fatimah angguk, matanya nutup malu. "Iya, Akhi. Fatimah perawan, jadi... hati-hati ya."
Risky lepas celananya, kontol besar 20 cm-nya tegang, tebal dengan urat menonjol, tahan lama seperti biasa. Dia posisi missionary dulu, biar romantis. Kontolnya gosok-gosok dulu di luar, bikin Fatimah mengerang, "Ah... besar banget, Akhi. Masuk gak ya?"
"Pelan aja," bisik Risky, cium keningnya. Dia dorong pelan, kepala kontolnya masuk sedikit, Fatimah jerit kecil, "Sakit! Akhi, pelan..." Ada darah sedikit, tanda perawan diambil. Risky berhenti, peluk dia. "Sabar, Sayang. Napas dalam." Fatimah angguk, napasnya stabil. Risky dorong lagi pelan, masuk separuh, vagina Fatimah sempit banget, memeluk kontolnya erat. "Ya Allah... enak sekali," gumam Risky dalam hati, bandingkan lagi: "Rina longgar, Lisa basah tapi gak seketat ini, Mia childish. Fatimah... perfect."
Fatimah kaku, tubuhnya tegang. "Akhi... gerak pelan ya. Fatimah masih belajar." Risky gerak maju mundur lambat, skill seksnya yang luar biasa dia pakai: ritme stabil, tahan lama tanpa buru-buru. Fatimah mulai nikmatin, mengerang pelan, "Ah... sekarang enak, Akhi. Lebih dalam..."
Mereka lanjut intens, Risky angkat kaki Fatimah sedikit biar lebih dalam, tapi Fatimah tolak gaya lain. "Jangan ganti posisi dulu, Akhi. Fatimah masih kaku." Risky oke, lanjut missionary romantis, cium leher dan dada sambil gerak. Fatimah orgasme pertama kali, tubuhnya bergetar, "Ya Allah... apa ini? Enak banget..." Risky tahan, skillnya bikin dia gak cepat finis. Setelah 20 menit, dia finis di dalam, cairan hangat memenuhi.
Mereka rebahan peluk-pelukan, keringat basah. "Terima kasih, Akhi. Itu... indah," bisik Fatimah, kepala di dada Risky.
Risky cium keningnya. "Aku juga, Fatimah. Kamu istri terbaik. Kita ulang lagi nanti, pelan-pelan." Malam itu berakhir romantis, Risky gak maksa lebih, kasih waktu Fatimah adaptasi. Dalam hati, dia senang: "Ini awal baru, lebih baik dari masa lalu gue." Di luar, hujan reda, rumah tenang, tapi gejolak baru mulai di keluarga ini.














