Lanjut Gan
Ceritain pengalamanya
Gw dan bini gw ayu sudah tuju tahun menikah, tapi kehamilan yang kita nanti-nanti tak kunjung datang. Akhirnya, atas saran tetangga, kita datang ke rumah Pak Karto di malam yang gerimis. Bau kemenyan dan minyak kayu putih menyambut kita begitu pintu dibuka.
Setelah aki disuruh menunggu di teras, bini gw dibawa masuk ke ruang remang-remang. Pak Karto menyerahkan jarik batik tipis motif sogan.
“Ganti dulu ya, Mbak Ayu. Jarik ini saja. Tanpa bra, tanpa dalaman atas. Lebih bagus lagi kalau Mbak lepas semuanya di dalam jarik, biar energi saya bisa masuk langsung tanpa hambatan,” kata Pak Karto
“Semuanya lepas, Pak? Maksudnya… celana dalam juga?”
samar terdengar percakan bini gw dari dalam
“Iya, Mbak. Banyak pasien yang akhirnya telanjang bulat di bawah jarik. Lebih cepat auranya terbuka. Mbak percaya sama saya, kan? Ini demi anak yang Mbak dan Mas aldi idam-idamkan.”
Bini gw masuk ke bilik kecil. Ia melepas semua pakaiannya blus, bra, celana dalam hingga tubuhnya telanjang. Jarik tipis itu ia lilit longgar dari dada sampai paha tengah. Kainnya begitu transparan sehingga bayangan putingnya yang sudah tegang dan bulu halus di selangkangannya samar-samar terlihat.
Pak Karto menyuruhnya berbaring telentang di tikar pandan.
“Wah, Mbak Ayu sudah cantik sekali pakai jarik begini. Kulitnya mulus banget,” pujinya sambil menuang minyak urut hangat ke tangannya.
Pijatan dimulai dari pundak. Tangan kasarnya pelan-pelan turun ke dada. Jarik langsung ia geser ke bawah hingga kedua payudara bini gw yang bulat dan kencang terbuka sepenuhnya.
“Titik aura kesuburan utama ada di sini, Mbak,”
bisik Pak Karto sambil meremas kedua payudara bimi gw dengan lembut tapi tegas. Jarinya menggosok puting yang langsung mengeras lebih keras lagi.
Bini gw mendesah pelan. “Ahh… Pak… ini perlu ya?”
“Perlu banget, Mbak. Lihat, puting Mbak sudah tegang begini. Artinya energi panas sudah mulai mengalir,” jawab Pak Karto sambil terus memilin kedua puting bergantian.
“Enak nggak, Mbak? Jujur saja.”
Bini gw menggigit bibir, wajahnya merona.
“Ehm… agak… aneh, Pak. Tapi… ya… enak juga.”
Pak Karto tertawa kecil.
“Bagus. Kalau Mbak enak, berarti rahim Mbak sedang membuka diri. Biar saya pijat lebih dalam lagi ya.”
Ia menuang lebih banyak minyak, lalu tangannya turun ke perut Ayu, gerakan melingkar besar. Jarik semakin tergeser hingga kini hanya melingkar longgar di pinggang. Seluruh tubuh Ayu telanjang berkilau minyak di bawah cahaya lilin.
Tangan Pak Karto terus turun, menyentuh pangkal paha.
“Sekarang titik rahimnya, Mbak. Harus dipijat dalam-dalam.”
Jari tengahnya menyusuri bibir vagina bini gw yang sudah mulai basah.
“Wah, Mbak Ayu sudah banjir begini. Cairannya banyak sekali. Ini tandanya aura kesuburan Mbak sangat kuat,”
Bini gw menggeliat.
“Pak… ahh… jangan bilang gitu… malu…”
“Tapi bener kan, Mbak? Memek Mbak sudah licin banget. Bau harumnya sampai ke hidung saya,”
bisik Pak Karto sambil memasukkan satu jari perlahan ke dalam vagina Ayu.
“buka dikit, Mbak. Gerakkan pinggul Mbak pelan-pelan.”
Bini gw tak bisa menahan lagi. Pinggulnya mulai bergoyang kecil mengikuti irama jari Pak Karto. “Ahh… Pak… dalam lagi… iya… gitu…”
“Bagus, Mbak. Bilang saja apa yang Mbak mau. Saya ingin Mbak puas dulu biar energinya maksimal,”
kata Pak Karto sambil menambah satu jari lagi, kini dua jari mengaduk-aduk dalam vagina Ayu yang semakin banjir.
“Pak… ahh… gosok yang atas itu… klitorisnya… tolong…”
desah bini gw dengan suara gemetar, sudah tak peduli lagi.
Pak Karto tersenyum lebar. Jempolnya langsung menggosok klitoris bini gw dengan cepat sambil jari-jarinya terus keluar-masuk.
“Begini, Mbak? Enak? Memek Mbak sudah berdenyut-denyut nih. Mau keluar ya?”
“Iya… Pak… ahh… mau keluar… jangan berhenti…!” .
Beberapa detik kemudian, tubuh bini gw mengejang . Cairan hangat menyembur dari dalamnya, membasahi tangan dan tikar. Orgasm pertama membuatnya lemas sejenak.
Pak Karto tak memberi jeda. Ia terus merangsang hingga bini gw orgasme lagi untuk kedua dan ketiga kalinya,
Setelah hampir dua jam, Pak Karto akhirnya berhenti. Tubuh Ayu berkeringat deras, jarik sudah terlepas sepenuhnya, tergeletak basah di samping.
Pak Karto membersihkan tubuh bini gw dengan handuk hangat, jari-jarinya masih sesekali menyentuh puting atau klitorisnya.
“Besok lanjut lagi ya, Mbak. Mbak harus datang setiap malam selama tujuh hari. Saya janji, rahim Mbak akan benar-benar terbuka lebar.”
Ayu hanya bisa mengangguk lemas,
“Iya… Pak… besok… saya datang lagi…”
Saat keluar menemui gw, langkah bini gw goyah, wajahnya masih merona , jarik menempel ketat di tubuhnya yang basah keringat dan cairan kenikmatan.
Gw memeluknya bini w. “Capek banget ya, sayang? Tapi semoga berhasil.”
Dia tersenyum tipis, tangannya memegang lengan gw “Iya, Mas… semoga berhasil.”