thombol
Calon Suhu Semprot
\
selalu ane tunggu gan ...qiqiqiqiqi
Maaf suhu baru disent yach

\
selalu ane tunggu gan ...qiqiqiqiqi


up up up..... total 3 jam ane baca TSnya agan....luarr biasa...menambah wawasan dan pengetahuan....

klo akses UG-FR kan tergantung amal dan perbuatan aja ...asli...ajib dah gan...lancrotkan...bahas ideal,sambil akses ug-fr![]()
wkkkkbisa di dikasih Quote yang agan tanyakan ....Dqrah ibtihad apa suhu yaa ??
Bahkan, dalam salah satu keterangan juga dikatakan bahwa darah istihadah juga terkadang dari syaithan. Rasulullah bersabda kepada Hamnah bint Jahsy: "Ini (darah istihadah) adalah kotoran syaithan" (HR. Abu Dawud dan Nasai). Akan tetapi sekali lagi,tidak berarti bahwa setiap yang mengidap penyakit istihadah, itu bersumber dari syaithan,akan tetapi boleh jadi karena faktor makanan atau hal lainnya. Hanya saja, syaithan juga terkadang menyakiti perempuan dengan jalan istihadah ini.
Maaf suhu salah maksudnya darah istihadah
Boleh bolehKapan setan dan jin berkeliaran?
Dalam sebuah hadits shahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah Saw bersabda
bahwasannya waktu berkeliarannya setan adalah pada waktu matahari terbenam (sareupna=sunda) yakni sekitar sebelum dan setelah Maghrib sedikit. Untuk itu, Rasulullah menganjurkan, apabila waktu menjelang malam tiba, hendaklah anak-anak segera disuruh masuk ke dalam rumah. Hadits dimaksud berbunyi:
Artinya: "Rasulullah Saw bersabda: "Apabila sore hari menjelang malam tiba, tahanlah (di dalam rumah)anak-anak kecil kalian, karena pada saat itu setan berkeliaran. Apabila permulaan malam sudah tiba,diamkanlah anak-anak kalian di dalam rumah, tutuplah pintu-pintu (termasuk jendela) kalian dengan terlebih dahulu menyebut nama Allah karena setan tidak akan dapat membuka pintu yang terkunci dengan menyebut nama Allah sebelumnya, dan ikatlah kendi-kendi air kalian (qirab adalah jama dari qurbah yakni tempat air yang terbuat dari kulit dan di ujungnya biasa diikat dengan tali untuk menghalangi kotoran masuk) sambil menyebut nama Allah, tutuplah bejana-bejana atau wadah-wadah kalian sambil menyebut nama Allah meskipun hanya ditutup dengan sesuatu alakadarnya dan matikanlah lampu-lampu kalian (kalau mau tidur)" (HR. Bukhari Muslim).
Dalam hadits di atas Rasulullah Saw menganjurkan lima hal ketika sore hari menjelang malam tiba.
Yakni menyuruh masuk dan diam anak-anak, menutup pintu, karena dengan demikian, setan tidak akan mengganggu anak tersebut juga setan tidak akan bisa masuk ke dalam rumah yang sudah terkunci dengan menyebut nama Allah sebelumnya, mengikat tempat air, menutup bejana dan wadah-wadah, karena setan juga tidak akan bisa membuka tempat air dan bijana yang disebutkan nama Allah sebelumnya, dan matikanlah lampu apabila menjelang tidur.Untuk yang kelima, yakni matikan lampu sebelum tidur karena dengan demikian, kita akan terhindar dari bahaya kebakaran yang seringkali dilakukan setan. Setan seringkali bermaksud untuk membakar rumah dan penghuninya dengan jalan menyerupai seekor tikus lalu menubruk tempat lampu tersebut sehingga api bisa menjalar. Untuk itu Rasulullah menganjurkan agar lampu dimatikan sebelum
tidur. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut:
Artinya: "Ibnu Abbas berkata: "Suatu hari seekor tikus datang menyeret kain yang dipintal kemudian dilemparkan ke hadapan Rasulullah Saw yang sedang duduk di atas tikar. Kemudian kain dipintal yang dibawa tikus tadi terbakar persis sebesar uang dirham. Rasulullah Saw Kemudian bersabda: "Apabila kalian tidur, matikanlah lampunya, karena syaithan seringkali berwujud seekor tikus yang membawa sesuatu (yang mudah dibakar) yang ditujukkan ke lampu tersebut sehingga dapat membakar kalian" (HR. Abu Dawud dengan sanad shahih).
Namun untuk kondisi sekarang di mana sudah menggunakan lampu dan listrik bukan api lagi,
barangkali dengan dimatikannya lampu agar tidak terjadi pemborosan energi. Dan pemborosan adalah salah satu perbuatan setan.Dalam hadits lain juga dikatakan:
Artinya: "Dari Jabir, Rasulullah Saw bersabda: "Janganlah kalian melepaskan binatang peliharaan dan anak-anak kalian ketika matahari terbenam sehingga hitam legammnya sore hari (sunda/jawa=layung) betul-betul hilang, karena setan-setan berkeliaran ketika matahari terbenam sampai saat dimana hitam legamnya sore hilang (sampai waktu malam tiba)" (HR.Muslim).
Mengapa setan berkeliaran pada waktu menjelang malam? Menurut Ibn al-Jauzi, karena gerak gerik setan pada waktu malam jauh lebih gesit dan kuat dari pada waktu siang. Karena waktu gelap bagi setan adalah waktu yang lebih fresh dan lebih menguatkannya, di samping memang kegelapan dan warna hitam adalah kesukaan setan. Karena itulah, dalam salah satu hadits Rasulullah Saw mengatakan: "Anjing hitam itu adalah setan". (lihat juga dalam Fathul Bari, VI/342).
Apakah jin mempunyai hewan ternak?
Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita perhatikan hadits riwayat Imam Muslim sebagaimana
telah disebutkan di atas. Dalam hadits itu terdapat kata-kata bahwa para jin kemudian berkata kepada Rasulullah Saw mengenai makanannya. Rasulullah kemudian menjawab: " Makanan kalian itu (wahai golongan jin) adalah setiap tulang yang masih ada sisa-sisa dagingnya yang berada di tangan kalian dan ketika memakannya disebutkan nama Allah serta semua tahi (kotoran) binatang ternak kalian". Dari redaksi hadits ini dapat diambil kesimpulan bahwa jin atau syaithan mempunyai binatang ternak. Untuk lebih mengetahui binatang ternak apa saja yang mereka miliki, marilah kita perhatikan dalil-dalil berikut ini:
Dalam surat al-Isra ayat 64, Allah menjelaskan bahwa syaithan mempunyai kendaraan kuda yang
mereka tunggangi ketika mengganggu dan melawan keturunan Adam, manusia. Allah berfirman:
Artinya: "Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka" (QS. Al-Isra: 64).
Selain kuda, hewan lainnya yang seringkali diikuti dan ditemani oleh syaithan dalah unta. Dalam
sebuah hadits Rasulullah Saw bersabda:
Artinya: "Rasulullah Saw bersabda: "Sesungguhnya unta itu diciptakan dari Syaithan, dan di belakang setiap unta itu ada syaitannya" (HR. Said bin Mansur dengan sanad mursal hasan).
Dalam hadits lain juga dikatakan, termasuk hewan yang sering kali diikuti oleh syaithan adalah
anjing hitam. Dalam sebuah hadits dikatakan:
Artinya: "Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya anjing hitam itu adalah syaithan".
Menurut Imam Suyuthi dalam bukunya Luqathul Marjan fi Ahkamil Marjan, kedua hadits di atas
yang mengatakan bahwa unta dan anjing hitam itu adalah syaithan harus dipahami sebagai tasybih (penyerupaan) saja. Maksudnya, unta disamakan dengan syaithan dalam hal sama-sama sulit dan penguasaannya. Sedangkan anjing hitam disamakan dengan syaithan dalam hal sama-sama jelek, jahat dan paling sedikit manfaatnya.
Apakah jin makan dan minum?
Mengenai masalah ini para ulama berbeda pendapat. Secara umum pendapat tersebut terbagi kepada tiga kelompok:
Pertama, mereka yang mengatakan bahwa semua jin tidak makan dan tidak pula minum. Pendapat
ini tentunya sangat menyalahi nash baik dari al-Qur'an maupun hadits yang mengatakan bahwa jin itu makan dan minum. Karena itu, pendapat ini pendapat yang lemah.
Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa ada sekelompok jin yang tidak makan dan tidak minum,
ada juga kelompok jin lainnya yang makan dan minum. Pendapat ini didasarkan pada salah satu riwayat dari Ibnu Abdil Bar dari Wahab bin Manbah yang mengatakan:
Artinya: "Jin itu ada beberapa jenis. Jin yang paling halus berbentuk angin (udara), mereka tidak makan,tidak minum, tidak mati dan tidak beranak. Jenis yang lain ada jin yang makan, minum, melahirkan,menikah dan mati. Yang termasuk jenis terakhir ini adalah jin yang bernama as-Sa'ali, al-Ghaul dan al-Qathrab (semuanya nama-nama jin)" (Lihat dalam Fathul Bari: VI: 345).
Hanya saja, sayang ungkapan di atas hanya merupakan pendapat dari Wahab bin Manbah, bukan
berupa sabda Rasulullah atau perkataan para sahabat. Apa yang dikatakan Wahab bin Manbah di atas tidak didasarkan kepada dalil dan memang tidak ada dalil yang mengatakan hal demikian. Untuk itu, pendapat ini kurang dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya.
Ketiga, pendapat yang mengatakan bahwa semua jin itu makan dan minum. Pendapat inilah hemat
penulis yang lebih mendekati kebenaran karena disokong oleh banyak keterangan berupa dalil-dalil dan hadits-hadits shahih. Di antara dalil tersebut adalah:
1. Hadits riwayat Imam Muslim sebagaimana telah disebutkan di atas yakni:
Artinya: " Rasulullah Saw menjawab: "Makanan kalian itu (wahai golongan jin) adalah setiap
tulang yang masih ada sisa-sisa dagingnya yang berada di tangan kalian dan ketika memakannya
disebutkan nama Allah serta semua tahi (kotoran) binatang ternak kalian". Rasulullah Saw kemudian melanjutkan sabdanya: "Oleh karena itu, janganlah kalian (para sahabat) beristinja
(membersihkan najis seperti habis buang air kecil atau besar dengan menggunakan batu atau benda lainnya selain air) dengan keduanya (tulang dan kotoran binatang), karena keduanya itu adalah makanan saudara kalian (golongan jin)" (HR. Muslim).
2. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:
Artinya: "Dari Ibnu Umar bahwasannya Rasulullah Saw bersabda: "Apabila salah seorang dari
kalian makan, maka makanlah dengan tangan kanannya, dan apabila ia minum, maka minumlah
dengan tangan kanannya, karena syaithan makan dan minum dengan tangan kirinya" (HR.Muslim).
3. Masih dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah Saw bersabda:
Artinya: "Dari Jabir bin Abdillah bahwasannya ia mendengar Rasulullah Saw bersabda: "Apabila
seseorang masuk rumah, lalu ia menyebut nama Allah ketika masuk (rumah) dan ketika makan,
maka syaithan akan berkata (kepada sesama syaithan lainnya): "Kalian tidak dapat nginep dan tidak bisa makan malam". Namun apabila ia masuk rumah, dan tidak menyebut nama Allah (berdoa) ketika masuk dan makannya, syaithan akan berkata: "Nah, sekarang kalian bisa nginep dan bisa makan malam" (HR. Muslim).
Demikian di antara hadits-hadits shahih yang menjelaskan bahwa jin itu makan dan minum. Dari
sini tampak bahwa pendapat yang mengatakan jin itu makan dan minum lebih mendekati kebenaran dan lebih sesuai dengan nash-nash shahih sebagaimana telah disebutkan di atas.







