such as inggris or esperanto.
Mengapa demikian.
Lets share nyokkk...
Esperanto éta lain basa antawis bangsa/antara-bangsa kusabab esperanto itu basa anu di-daramel/di-bikin² sareng jalmi² sarjana
Anu basa internasional teh misalna

basa linggis,

basa ciamis,

basa separoh nyolong, basa² anu dianggo di P.B.B./F.I.F.A.
Selama masih ada pelajaran muatan lokal dlm kurikulum sih g masalah hu. Dari situ jg diajarkan situasi kondisi pemakaian bahasa daerah atau nasional.
tergantung, banyak yg tinggal kelas gara² muatan lokal, misalnya anak anak N.T.T. yg tinggal kelas berkali kali karna disuruh nulis aksara Bali, mana udh gitu ortunya emang ngga bisa bahasa Bali karena emang ngerantau dari N.T.T.
memang benar, banyak bahasa daerah punah karena arus globalisasi. aku pernah baca, di australia beberapa bahasa suku asli australia punah karena anggota suku penutur bahasa itu sudah punah. ada satu bahasa daerah yang penutur aslinya tinggal satu, seorang nenek tua. karna itu seorang mahasiswa jurusan antropologi dari cina inenek tua itu, dan membuat dokumentasi tentang bahasa daerah itu
ada satu masalah lagi: masalah personal. ada bahasa yg
native speakers nya tinggal dua tapi ngga akan pernah bisa berkembang gara gara si dua orang itu berantem terus akhirnya jadi diem dieman
Miris juga orang2 lebih suka langsung belajar bahasa ibu (bahasa indonesia) tanpa mengenal bahasa sesepuh (bahasa daerahnya)
Ada mis-concept-ion di sini:
native language/
mother tongues itu tidak harus bahasa ibu. ada yg memang native language nya batak karena memang
sehari hari di rumah pakenya bahasa batak dan baru belajar bahasa indonesia pas sudah berstatus mahasiswa di jakarta
tapi grand issue bahwasannya bahasa ini semakin menghilang dan diganti dengan bahasa indonesia yaaaaaaa
saya paham lah!
persoalannya kan begini: itu mereka saja sewaktu kecil nda bisa bahasa jawa/sunda, lalu ketika kawin? dia dapatlah pasangan yang jawanya/sundanya sama sama ngga bagus/yaaaaaaaa ngga bagus bagus amat lah. walhasil, anaknya memang ngga bisa bahasa jawa/sunda dan akhir akhirnya jumlah yang tidak lancar bahasa jawa/sunda semakin ke sini semakin banyak
ditambah-tambah lagi, kadang kadang generasi tuanya ketika ditanya juga: wah! pakai bahasa indonesia sajalah saya
ngga mau pakai jawa/sunda.
jadi ini masalah lintas-generasi yang solusinya memang harus sama sama komitmen dan jangan cuma surah suruh pejabat lakukan ABCDEFGHIJKLMN tapi warga warga sana tidak mau terlibat.
kalau itu akan susah terus nantinya
Eh ... eh .... Dede, jangan lulumpatan .... nanti kakinyah ti poros !
Di lingkungan NU terutama kalau mau yasinan/acara² lain yang sekira kiranya ngundang pak kiai juga pakai sunda lemes. Persoalannya, di kehidupan sehari hari, apakah dipakai/tidak?
Anak jaman sekarang kan pakai bahasa sunda untuk mengumpat/memaki/misalnya ngomong AING MACAN SIA SAHA?
Jadi masalahnya kontrol kita sebagai yang lebih tua juga memang dituntut untuk ekstra peduli. Sederhananya: it takes a village to raise a child, begitu kira kira!