CersexHub69
Suka Semprot
- Daftar
- 31 Dec 2025
- Post
- 3
- Like diterima
- 2
Guru Genit
Sinopsis
Pak Dirman adalah guru biologi sekolah perguruan menengah, sekolah SMA khusus perempuan membuat pak Dirman dekat dengan siswi-siswi perempuan. Dan pikiran-pikiran kotor sering muncul di kepala pak Dirman, sering kali tak bisa ditahan ketika ada kesempatan dalam kesempitan.Pak Dirman memanfaatkan keluguan siswi-siswi nya untuk menyalurkan Hasrat terpendam, dimulai dengan Pelajaran biologi perkawinan, anatomi tubuh dan organ reproduksi, dan laboratorium tertutup Dimana pak Dirman dan siswi-siswi nya sangat dekat.
Banyak siswi yg terjebak oleh rayuan pak Dirman, diam dan menurut atau dikasih nilai jelek dan dipersulit dalam pelajaran. Beberapa siswi ada yg nakal, dan sengaja memancing nafsu pak Dirman demi uang jajan atau nilai yg bagus.
*****
Chapter 1: Anatomi Kelamin di Kelas Biologi
Pak Dirman bukanlah sosok guru yang terlihat mengancam. Di usianya yang menginjak 50-an, duda tua itu tampak bersahaja dengan kemeja safari yang sedikit kebesaran dan kacamata yang sering melorot ke ujung hidung. Namun, di balik penampilan sederhana itu, tersimpan kesepian yang telah mengerak selama bertahun-tahun sejak kepergian istrinya. Hidup sendirian di rumah dinas yang sunyi membuat pikirannya sering mengembara ke tempat-tempat terlarang, terutama saat ia berada di lingkungan SMA khusus perempuan tempatnya mengajar.Bagi Dirman, sekolah ini adalah oase. Melihat ratusan siswi muda dengan seragam ketat, rok abu-abu yang tersingkap saat mereka duduk, dan aroma parfum remaja yang manis, adalah hiburan satu-satunya. Ia sering bercanda dengan gaya genit yang dianggap "asik" oleh murid-muridnya, padahal itu hanyalah kedok untuk menyalurkan fantasi kotor yang mulai menguasai otaknya.
Laboratorium Syahwat
Mata pelajaran Biologi adalah panggung utama bagi Pak Dirman. Di dalam kelasnya, atmosfer terasa berbeda. Ia sengaja memasang poster-poster anatomi alat reproduksi perempuan dalam ukuran besar dan warna yang mencolok. Di pojok ruangan, di dalam sebuah akuarium kaca yang bersih, ia memajang replika kemaluan perempuan 3D yang sangat detail. Terkadang, ia berdiri lama di depan akuarium itu, menatapnya dengan pandangan memuja seolah sedang menyembah sebuah berhala suci.
Pagi itu, Pak Dirman masuk ke kelas dengan semangat yang meluap-luap. Matanya menyapu deretan siswi yang duduk rapi. "Selamat pagi anak-anak, gimana kabar kalian hari ini? Semoga semua baik-baik saja dan rahim kalian dalam kondisi sehat ya," sapanya dengan senyum yang genit.
Beberapa siswi terkikik, menganggap ucapan Dirman hanyalah gurauan khas guru biologi yang blak-blakan, hingga Pak Dirman dijuluki oleh siswi-siswi nya sebagai “Guru Genit.”
"Oke, mari kita mulai pelajaran kita. Hari ini temanya sangat penting: Perubahan Organ Reproduksi Sebelum dan Sesudah Bersenggama. Ini penting bagi kalian, calon ibu-ibu masa depan," lanjut Dirman sambil mengambil sebuah kotak dari mejanya.
Ia mengeluarkan replika alat kelamin perempuan yang terbuat dari karet kenyal berwarna merah muda. "Nah, bayangkan ini milik kalian ya nak. Ini bagian bibirnya, labia mayora, dan ini lubang tempat keluar urin."
Suasana kelas mendadak hening namun tegang. Dirman kemudian mengambil sebuah dildo atau replika penis dari laci lainnya. Dengan gerakan yang sangat perlahan dan penuh penekanan, ia mulai memperagakan proses penetrasi di depan wajah para siswi.
"Saat kalian bersenggama, benda ini harus masuk ke dalam. Ketika terjadi gerakan maju-mundur seperti ini..." Dirman menggesek-gesekkan kedua benda karet itu keluar masuk lobang. "...akan terjadi gesekan di g-spot. Di sini pusat syarafnya. Kalian akan merasakan kenikmatan luar biasa, dan cairan pelumas akan mulai banjir keluar dari rongga ini. Paham ya anak-anak?"
Beberapa siswi menunduk malu, namun ada yang menatap tanpa kedip dengan napas yang mulai berat. Peragaan Dirman yang begitu vulgar dan intents membuat beberapa siswi di barisan depan merasa celana dalam mereka mulai lembap karena rangsangan yang tak terduga.
Seorang siswi nakal di barisan tengah mengangkat tangan. "Saya ada pertanyaan pak. Kalau salah masuk lubang gimana pak? Kan ada lubang yang di belakang juga?"
Pak Dirman tertawa kecil, matanya berkilat nakal. "Hehe, kalau bisa jangan salah masuk lubang, Nak. Selalu pastikan pasanganmu berada di lubang yang benar ya. Kesini masuknya untuk pembuahan, dan dari sini pula janin akan keluar. Kalau salah masuk lubang belakang, itu namanya pemborosan benih, tidak akan jadi bayi, tapi cuma jadi rasa sakit yang nikmat," jawabnya yang disambut riuh tawa dan sorakan di kelas.
Aina: Target Favorit Sang Guru
Di antara sekian banyak siswi, mata Dirman selalu tertuju pada Aina. Siswi kelas tiga itu memiliki tubuh yang sudah matang sempurna; dadanya besar hingga kancing seragamnya seolah hampir meledak, dan pinggulnya yang lebar selalu bergoyang menggoda saat ia berjalan. Aina bukan siswi polos; ia tahu cara memanfaatkan kecantikannya demi nilai dan uang jajan.
Setelah jam pulang sekolah dan suasana mulai sepi, Dirman menghampiri meja Aina. "Aina, nanti bantu Bapak di kantor sebentar ya. Ada tugas administrasi yang harus kamu tulis. Tenang, nanti Bapak kasih uang jajan lebih. Jangan bilang siapa-siapa ya, kita berdua saja. Nanti malam Bapak antar kamu pulang pakai motor."
Aina tersenyum binal, seolah sudah tahu apa yang akan terjadi. "Hmm... gitu ya pak? Iya deh, asal jatah uang jajannya ditambah ya pak?"
Sore itu, kantor guru sudah kosong melompong. Hanya ada Dirman dan Aina di ruangan yang remang-remang. Dirman duduk di kursi besarnya, sementara Aina berdiri di sampingnya.
"Aina, bapak minta tolong kerjakan ini ya... tulis nilai-nilai ini ke buku besar. Tapi, sini... duduk di atas paha bapak biar nulisnya lebih santai," perintah Dirman sambil menepuk pahanya.
Tanpa ragu, Aina duduk di atas paha Pak Dirman. Ia mulai menulis, namun sengaja menggoyangkan pantatnya yang empuk di atas pangkuan Dirman. Meskipun terhalang kain celana dan rok, Dirman bisa merasakan "terong"-nya mulai menegang keras karena gesekan itu. Dirman mengangkat rok Aina perlahan, membiarkan tangannya meraba paha mulus siswinya sambil menikmati guncangan gairah yang diberikan Aina.
"Aina... sudah waktunya. Ayo jongkok, lemesin punya bapak dulu," bisik Dirman dengan napas yang sudah tersengal.
Aina menurut. Ia turun dari paha Dirman dan jongkok di lantai, tepat di antara kedua kaki gurunya. Dirman membuka ritsleting celananya, mengeluarkan kejantanannya yang sudah memerah dan berdenyut. Dengan kemahiran yang mengejutkan bagi seorang siswi SMA, Aina mulai bermain dengan mulut dan lidahnya, menjilati setiap inci milik gurunya dengan penuh semangat.
SSERRRPPPP AHHHH SERRPPPPPP AHHHHHH
"Ahhh... enak Aina... terus sayang... ahhh!" Dirman mencengkeram hijab Aina saat puncak itu tiba. "Ayo, telan semuanya jangan ada yang tersisa nak, crottttt, crottttt, croootttt ahhh!"
Gleggg... gleggg... gleggggg...
Aina menelan semua cairan kental milik Pak Dirman hingga bersih, tanpa sisa sedikit pun di bibirnya. Ia kemudian berdiri, merapikan hijabnya yang kusut, dan menatap Dirman dengan tatapan penuh tuntutan. Dirman segera mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya dan menyelipkannya ke dalam saku seragam Aina.
Ambisi Sang Duda Tua
Malam itu, setelah mengantar Aina pulang, Dirman berbaring di kasurnya yang dingin. Kejadian di kantor tadi kembali berputar di otaknya. Meski ia sering melakukan hal-hal "kecil" seperti itu dengan beberapa siswinya, Dirman menyadari bahwa ia belum pernah benar-benar menggauli atau melakukan persetubuhan penuh dengan mereka.
Ada rasa takut yang masih menghantuinya, ketakutan akan dipecat, dipenjara, atau nama baiknya hancur di masa tua. Namun, rasa kesepian dan nafsu yang dipicu oleh lingkungan sekolah khusus perempuan itu jauh lebih kuat daripada rasa takutnya.
"Ahhh, aku sudah tidak tahan lagi. Main mulut saja tidak cukup," gumam Dirman sambil menatap langit-langit kamar. "Aku harus nekat. Sudah saatnya aku mempraktikkan pelajaran Biologi Perkawinan itu secara nyata di atas ranjang dengan salah satu dari mereka."
Pikiran kotor Dirman kini menyusun rencana untuk hari esok. Laboratorium biologi yang tertutup dan kedap suara akan menjadi saksi bisu bagi ambisi kejantanannya yang selama ini terpendam.
Bersambung…
*****















