CersexHub69
Suka Semprot
- Daftar
- 31 Dec 2025
- Post
- 3
- Like diterima
- 2
Bu Guru Kesepian
Sinopsis
Pak Dirman adalah guru biologi sekolah perguruan menengah, sekolah SMA khusus perempuan membuat pak Dirman dekat dengan siswi-siswi perempuan. Dan pikiran-pikiran kotor sering muncul di kepala pak Dirman, sering kali tak bisa ditahan ketika ada kesempatan dalam kesempitan.Pak Dirman memanfaatkan keluguan siswi-siswi nya untuk menyalurkan Hasrat terpendam, dimulai dengan Pelajaran biologi perkawinan, anatomi tubuh dan organ reproduksi, dan laboratorium tertutup Dimana pak Dirman dan siswi-siswi nya sangat dekat.
Banyak siswi yg terjebak oleh rayuan pak Dirman, diam dan menurut atau dikasih nilai jelek dan dipersulit dalam pelajaran. Beberapa siswi ada yg nakal, dan sengaja memancing nafsu pak Dirman demi uang jajan atau nilai yg bagus.
*****
Chapter 1 : Sunyi di Balik Seragam
Bu Ayu Sri Andini adalah definisi kesempurnaan seorang guru. Cantik, rapi, dan sangat religius. Kerudung dan gamisnya selalu lebar, menyembunyikan lekuk tubuh matangnya yang sebenarnya sangat menggoda. Kacamata besarnya membingkai tatapan tenang, dan senyum ramahnya selalu menyejukkan. Di mata kolega dan wali murid, hidupnya tampak damai dan berkah. Namun, tak ada yang tahu betapa malam-malamnya terasa begitu panjang, dingin, dan menyiksa batin.Suaminya, Mas Bambang, bekerja di luar provinsi bahkan lintas pulau. Sudah tiga bulan ia tak pulang. Awalnya Bu Ayu menghitung hari dengan sabar, lalu menghitung minggu, hingga akhirnya ia berhenti menghitung karena rasa sesak yang kian menghimpit. Telepon semakin jarang berdering, pesan semakin singkat dan hambar. Rindu yang dulu hangat kini berubah menjadi ruang hampa yang menuntut untuk diisi.
Yang paling menyakitkan adalah rahim yang masih saja kosong. Bertahun-tahun menikah, berobat ke sana-sini, hanya membuahkan kecewa yang berulang kali. Setiap kali melihat bayi atau mendengar tangisan anak kecil, dada Bu Ayu terasa remuk. Ia sering tersenyum tegar di depan orang, lalu menangis hebat, membiarkan air mata membasahi bantalnya saat sendiri di kamar yang pengap oleh kesepian.
Dalam keheningan kamarnya, ia kerap menatap langit-langit, tangannya meraba perutnya sendiri yang rata dan halus.
“Apa aku yang mandul atau suamiku? Atau memang takdirku harus mati rasa seperti ini?”
Pikiran-pikiran liar itu berkeliaran, membuatnya sulit tidur dan lelah secara batin. Mas Bambang tak pernah menyalahkannya secara terang-terangan, namun jarak fisik mereka telah menciptakan tembok es yang tebal. Bu Ayu merasakannya, ia merasa bukan lagi seorang istri, melainkan hanya pajangan yang terlupakan.
Untuk bertahan dari kegilaan itu, Bu Ayu menenggelamkan diri dalam pekerjaan. SMK tempatnya mengajar menjadi satu-satunya pelarian. Di sana, ia mengajar IPS dan Agama, menjadi sosok yang sangat dihormati. Di sanalah ia merasa dibutuhkan, dihargai, dan, untuk sementara, bisa melupakan betapa hausnya ia akan sentuhan seorang pria.
Sekolah itu memiliki beberapa staf muda dan siswa berbakat. Salah satunya adalah Rian.
Rian adalah murid favorit Bu Ayu yang sering membantunya di ruang OSIS. Tubuhnya tinggi dan berisi, lebih bongsor dari rata-rata remaja seusianya. Kumis tipis di atas bibirnya dan suara lugasnya memberikan kesan dewasa yang tenang. Ia bukan tipe pria yang banyak bicara, namun caranya menatap seolah ia tahu rahasia terdalam di balik gamis lebar Bu Ayu. Dan entah mengapa, perhatian kecil dari Rian terasa jauh lebih istimewa bagi Bu Ayu dibanding sapaan suaminya di telepon.
Awalnya biasa saja. Obrolan ringan tentang laporan atau pelajaran. Namun lama-lama, frekuensi pertemuan mereka menciptakan getaran yang berbeda. Percakapan mereka mulai melenceng ke arah personal, tentang hidup, rasa kesepian, hingga harapan-harapan kecil yang terpendam, dan perkara seksual yang samar.
Suatu pagi, di sela jam kosong, Bu Ayu menyapanya di ruang guru.
“Rian, apa kabarmu hari ini? Kamu kelihatan segar sekali, Nak,” katanya sambil tersenyum lembut, namun matanya tak sengaja memindai dada bidang Rian yang terbalut seragam ketat.
Rian membalas dengan sopan, namun sorot matanya tampak lebih berani.
“Alhamdulillah baik, Bu. Cuma agak pusing belakangan ini, kerjaan OSIS banyak banget.”
Bu Ayu mengangguk pelan. Ada rasa iba yang tiba-tiba berubah menjadi dorongan untuk menyentuh.
“Kamu jangan terlalu memaksakan diri. Badanmu juga perlu istirahat... sayangku.”
Kata "sayangku" meluncur begitu saja, seolah-olah hasrat yang selama ini ia kunci rapat di balik ayat-ayat suci sedang mencari celah untuk meledak.
Siang itu, ruang guru mendadak sepi. Hanya mereka berdua. Suasana terasa jauh lebih panas dari biasanya, meski kipas angin berputar kencang. Bu Ayu berdiri, melangkah pelan ke belakang kursi Rian. Bau parfum maskulin bercampur aroma tubuh segar khas pemuda menyerbu indra penciumannya, membuat jantung Bu Ayu berdegup kencang.
“Sini, Ibu pijitin leher kamu Rian. Pasti kamu capek banget,” bisiknya lirih di dekat telinga Rian.
Bu Ayu mulai memijat bahu kokoh itu. Jari-jarinya yang mulus dan lembut mulai meraba leher dan pundak Rian dengan sentuhan yang lebih dari sekadar pijatan biasa. Ia bisa merasakan otot-otot Rian yang mengeras di bawah tangannya. Rian tersentak kaget, napasnya memburu. Ia tak menyangka tangan yang biasa memegang kapur itu kini bergerak nakal di kulitnya.
“aduh Buk… tangan ibu halus ya, bikin aku merinding hehe.”
“hemmm santai aja Rian, ibu pijitin biar badan kamu enakan ya…” Bu Ayu membuka beberapa kancing seragam Rian dengan penuh nafsu, mengusap dadanya perlahan dan mulai meraba-raba.
Rian terdiam sejenak. Ia merasa canggung, malu, namun ada sesuatu yang "bangun" di dalam dirinya dan dalam celananya karena perlakuan Bu Ayu yang sangat tidak biasa ini.
Rian sebelumnya tidak pernah disentuh wanita selain ibunya sendiri, yg biasa memijat dan mengerok punggungnya saat sakit atau masuk angin.
“Terima kasih, Bu. Saya... saya sudah mendingan kok,” kata Rian dengan suara yang hampir habis, berusaha menjaga kewarasannya.
Bu Ayu seperti tak sadarkan diri, dia menarik kepala Rian ke belahan dadanya yg montok secara perlahan, sebuah sandaran yg terasa empuk melebihi bantal busa.
Rian dalam hatinya, “duhh apaan nih empuk-empuk.”
Bu Ayu hanyut dalam sensasi birahi yg memabukan, dia lupa diri, kemudian tersadar, ada rasa bersalah yang muncul sekejap, namun segera tertutup oleh sensasi hangat yang menjalar di seluruh tubuhnya, mengalir dari tangan ke dada sampai ke bawah perut Bu Ayu.
“astagfirullah, Rian udah ya… ibu jadi salah tingkah gini.”
Ia berbalik, merapikan jilbabnya yang sedikit berantakan, lalu duduk menjauh dengan napas yang masih tersenggal.
Sejak hari itu, garis batas di antara mereka mulai kabur.
Bu Ayu mulai lebih sering memikirkan Rian, bukan lagi sebagai murid, tapi sebagai pria dewasa yang kehadirannya mampu membasahi kekeringan hatinya. Ia merasa berdosa, namun nafsu itu jauh lebih jujur. Rasa kesepian membuatnya haus akan perhatian, pelukan, dan lebih dari itu.
Di rumah, sunyi kembali menyambut, tapi kini bayangan Rian ikut masuk ke dalam kamarnya. Malam terasa semakin membara saat Bu Ayu memeluk bantalnya erat-erat, membayangkan jemari besar Rian yang menyentuhnya. Ia mendambakan belaian mesra, ciuman yang basah, dan keinginan untuk dimanjakan sebagai perempuan seutuhnya.
Rian pun tak luput dari kegelisahan. Wajah tenang Bu Ayu yang religius namun memiliki sentuhan yang berani itu terus menghantuinya. Ia menyadari ketertarikan ini berbahaya, seperti bermain api di atas tumpukan jerami. Namun justru bahaya itulah yang membuatnya tak bisa berhenti membayangkan sang guru.
Keesokan harinya, Rian berangkat ke sekolah dengan tampilan berbeda. Ia berdandan lebih rapi, menyemprotkan parfum lebih banyak dari biasanya. Ibunya sempat menggoda,
“Kok kelihatan semangat sekali hari ini?”
Rian hanya tersenyum tipis dan menjawab singkat, “Ada urusan penting, Bu.”
Di gerbang sekolah, Bu Ayu sudah berdiri menyambut siswa. Seragamnya tetap rapi dan sopan, namun saat mata mereka bertemu, ada kilat nakal yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Cara Bu Ayu menatap Rian seolah-olah ia sedang menelanjangi pemuda itu dengan pikirannya.
Tak ada kata yang terucap. Tak ada sentuhan fisik. Namun udara di antara mereka terasa sangat panas dan penuh muatan hasrat.
Bu Ayu menunduk lebih dulu, menyembunyikan wajahnya yang mulai merona. Ia tahu ini salah. Ia tahu batasan suci itu ada. Namun ia juga tahu, menekan gejolak ini terasa jauh lebih menyakitkan daripada melakukan dosa.
Rian melangkah masuk ke kelas dengan dada bergemuruh. Dalam hatinya hanya satu kalimat yang terus berputar:
“Kenapa rasanya segila ini… dan kenapa aku sama sekali tak ingin berhenti?”
Dan di situlah semuanya bermula. Rian dan Ayu terjebak dalam dilema antara perasaan pada janji suci dan nafsu terpendam yang menuntut untuk dipuaskan.
Bersambung…
*****
Terakhir diubah:















