CersexHub69
Suka Semprot
- Daftar
- 31 Dec 2025
- Post
- 3
- Like diterima
- 2
Menantu dan Mertua
Sinopsis
Agus baru saja menikah dengan Siti, anak bungsu tunggal. Mereka tinggal serumah bersama ibunya, bu Dewi, janda tua berumur 50 tahun.Waktu pacarana sampai menikah semua tampak wajar, Agus pria sopan dan satun tidak pernah membuat masalah, Agus sedikit relijius namun lemah iman jika soal wanita. Mertua Agus, bu Dewi juga orangnya baik, selalu tinggal dirumah hanya berdua bersama Siti.
Bu Dewi lama menjanda, tidak pernah menikah lagi sejak suaminya meninggal 5 tahun lalu. Bu Dewi tampak kesepian, dan kehadiran Agus di rumah menambah kehangatan. Bu Dewi mengharapkan cucu dari Agus dan Siti.
Tapi godaan iman mulai muncul.
Bu Dewi meski berumur masih terlihat cantik dan segar, berumur 50 tapi tampak umur 40an. Baju-bajunya anggun, dia selalu pakai gamis lebar dan hijab syari. Sekilas tampak lebih anggun dari anaknya, Siti.
Siti masih terlihat kekanak-kanakan, bajunya asal-asalan, suka marah dan pemalas. Jauh lebih menarik ibunya yg selalu tampil anggun dan lemah lembut.
Tapi semua berubah, setelah beberapa bulan serumah dengan mertua, Agus mulai goyah iman nya, tak tahan dengan godaan bu Dewi, sang mertuanya yg cantik.
*****
Chapter 1: Calon Mertua Ganjen
Malam Minggu itu, langit di atas pinggiran kota tampak mendung. Rintik gerimis mulai membasahi aspal saat Agus memarkirkan motornya di depan sebuah rumah besar yang catnya mulai memudar, namun tetap menyiratkan kemewahan masa lalu. Di rumah inilah Siti tinggal bersama ibunya, Bu Dewi."Assalamualaikum," ucap Agus dengan nada sesantun mungkin saat pintu jati besar itu terbuka.
Bu Dewi berdiri di sana. Seorang janda berusia lima puluh tahun yang sama sekali tidak terlihat seperti wanita di usianya. Ia mengenakan daster satin tipis berwarna hijau tua yang jatuh pas di lekuk tubuhnya yang masih padat berisi.
Agus membungkuk, meraih tangan kanan Bu Dewi untuk bersalaman. Saat bibirnya menyentuh punggung tangan itu, jantungnya berdegup tidak karuan. Kulitnya begitu halus, ruangan dingin karena AC, namun memberikan sensasi panas yang menjalar ke sekujur tubuh Agus. Jemari Bu Dewi lentik, dengan kuku-kuku yang dipulas cat merah menyala, kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Bau parfum melati yang berat dan sedikit mistis menyeruak dari pergelangan tangan sang calon mertua.
"Gimana kabarnya, Bu? Sehat?" tanya Agus, berusaha menutupi kegugupannya dengan senyum manis.
"Alhamdulillah, sehat nak Agus. Ayo masuk, di luar sudah mulai basah," jawab Bu Dewi dengan suara rendah yang sedikit serak, seolah ada godaan yang sengaja ia selipkan di setiap suku kata.
Siti segera berpamitan ke dapur untuk membuatkan kopi, meninggalkan Agus berdua dengan ibunya di ruang tamu yang penuh dengan tumpukan baju di sudut kursi, pemandangan yang kontras dengan kemegahan rumahnya.
Ketegangan di Ruang Tamu
Bu Dewi tidak memilih kursi tunggal. Ia justru duduk di sofa panjang tepat di samping Agus. Jarak mereka begitu dekat hingga Agus bisa merasakan panas tubuh wanita tua itu. Saat Bu Dewi menyilangkan kakinya, paha mereka bersentuhan. Gesekan antara celana jeans Agus dan daster tipis yg membalut kulit paha Bu Dewi yang mulus membuat pria muda itu menelan ludah.
"Ibu cuma berdua saja ya di sini?" tanya Agus basa-basi, meski ia tahu jawabannya.
"Iya, Gus. Sepi sekali sejak ayahnya Siti tidak ada. Rumah ini terlalu besar kalau cuma untuk dua orang wanita kesepian," ucap Bu Dewi sambil menatap mata Agus dalam-dalam. Tangannya sengaja merapikan rambut yang tidak berantakan, memperlihatkan ketiaknya yang putih bersih di balik lengan daster yang longgar.
Bu Dewi mendekatkan wajahnya ke telinga Agus. "Jadi, kamu beneran serius sama Siti? Ibu sih boleh-boleh saja, asal kamu kuat"
Agus mengernyit, "Kuat gimana maksudnya, Bu?"
"Ya kuat segala-galanya. Ibu pengen cepat nimang cucu. Kamu sanggup nggak main sehari tiga kali?" Bu Dewi terkekeh, sebuah tawa yang terdengar sangat nakal. Tangannya tanpa sengaja, atau mungkin sengaja, meraba lutut Agus.
"Duh, kalau itu sih... saya kan masih bujang, Bu. Tenaganya masih penuh, hehe" jawab Agus dengan suara yang mulai bergetar dan sedikit malu.
"Masa sih masih perjaka? Jangan-jangan sudah sering main sama janda di luar sana hihihi?" goda Bu Dewi lagi. Suaranya kini hanya berupa bisikan yang genit dan menggelitik telinga Agus.
"Astagfirullah, maksud Ibu?"
"Maksud Ibu... ya main kuda-kudaan, Sayang," bisik Bu Dewi, menekankan kata 'Sayang' dengan sangat berani.
Rahasia di Balik Tumpukan Kain
Tepat saat itu, Siti keluar membawa nampan kopi. Wajahnya langsung menekuk melihat posisi duduk ibunya yang menempel pada Agus.
"Ibu! Duduknya jangan mepet-mepet gitu dong sama Agus. Malu dilihatnya!" protes Siti ketus.
Bu Dewi hanya tersenyum simpul dan bergeser sedikit, memberikan ruang bagi Siti. Agus yang merasa canggung langsung meraih cangkir kopinya yang masih mengepul. Untuk mengalihkan perhatian, ia melihat ke sekeliling ruangan yang agak berantakan.
Di sebelah tempat duduknya, ada tumpukan cucian yang belum dilipat. Tanpa sengaja, tangan Agus menyentuh selembar kain katun yang terasa tebal namun lembut. Saat ia melirik ke bawah, ternyata itu adalah sebuah celana dalam berukuran besar, tipe full brief, berwarna putih tulang dengan noda kekuningan samar di bagian tengahnya.
hemmm celana dalam milik calon mertua…
Jantung Agus seolah berhenti. Dengan gerakan cepat dan sembunyi-sembunyi, ia menggeser kain itu ke bawah tumpukan lain. Namun, aroma dari kain itu tertinggal di ujung jarinya. Ia mencium tangannya sendiri secara diam-diam. Bau harum deterjen bercampur dengan aroma khas kewanitaan yang matang dari sang pemilik.
Celana dalamnya saja sewangi ini, apalagi isinya, batin Agus dengan pikiran yang mulai liar.
Malam yang Terjebak
Hujan berubah menjadi badai tepat pukul sepuluh malam. Siti melarang Agus pulang karena risiko jalanan yang banjir dan petir yg menyambar-nyambar.
"Mas, kamu menginap di sini saja ya. Tapi tidur di sofa, nggak apa-apa kan?" tanya Siti penuh perhatian.
"Nggak apa-apa, Sayang. Maaf merepotkan," jawab Agus.
Bu Dewi yang muncul dari ruang makan menyahut, "Nggak repot kok, Gus. Anggap saja rumah sendiri. Kita makan mie rebus dulu ya biar hangat tidurnya nanti."
Setelah makan malam yang singkat namun penuh dengan lirikan-lirikan nakal dari Bu Dewi, Siti dan ibunya masuk ke kamar masing-masing. Lampu ruang tamu dimatikan, hanya menyisakan lampu remang-remang dari arah dapur.
Agus tidak bisa tidur. Pikirannya tertuju pada jemuran handuk di dekat pintu belakang yang ia lihat tadi. Dengan langkah berjinjit, ia menuju ke sana. Di sana tergantung beberapa potong pakaian dalam dan lingerie transparan berhias renda-renda yang sangat menggoda iman.
Ia meraih salah satunya. Sebuah lingerie hitam tipis milik Bu Dewi. Agus membenamkan wajahnya ke kain itu, menghirup aromanya sedalam mungkin seolah ia sedang menghisap nyawa dari sang pemilik. Keberaniannya memuncak; ia mengambil satu celana dalam berwarna merah milik mertuanya itu dan menyelipkannya ke dalam saku celananya sebagai 'kenang-kenangan' malam itu.
Pagi yang Menggoda
Menjelang subuh, Agus terbangun oleh suara pintu kamar mandi yang terbuka. Dari balik selimut di sofa, ia mengintip.
Bu Dewi baru saja selesai mandi. Ia tidak mengenakan daster, melainkan hanya berbalut selembar handuk tipis yang panjangnya hanya sampai pangkal paha. Rambutnya yang basah dibiarkan tergerai, meneteskan air ke pundaknya yang mulus. Kulitnya tampak begitu segar dan putih di bawah cahaya pagi yang masih temaram. Meski berumur tapi masih sangat kencang.
Setelah mandi b`u Dewi berjalan menuju jemuran, mencari sesuatu. "Duh, ke mana ya celana dalamku?" gumamnya pelan.
Saat ia menunduk untuk mencari di bawah lantai, handuknya tersingkap naik. Agus yang berpura-pura tidur merasakan darahnya berdesir hebat. Belahan bokong Bu Dewi yang montok dan padat terlihat jelas di depan matanya.
Napas Agus memburu. Ada dorongan purba untuk bangkit, memeluk wanita itu dari belakang, dan menuntaskan rasa penasarannya. Namun, akal sehatnya masih menang. Ia menutup matanya rapat-rapat, mencoba menenangkan 'miliknya' yang sudah menegang sempurna di balik selimut.
Ia tidak tahu bahwa ini barulah awal dari pengabdian panjangnya di rumah itu.
Bersambung...
*****
Terakhir diubah:















