Anggelaw
Tukang Semprot
Aku memanggilmu pelan-pelan dari dalam hati yang masih mencari rumah sejak kau pergi.
Ma, sering aku berkata pada Tuhan dalam diam,
“Seandainya aku tak pernah lahir,
mungkin Mama masih di sini,
masih tertawa, masih bernapas di dunia yang sama denganku.”
Bahwa kehadiranku adalah luka,
bahwa hidupku adalah harga yang terlalu mahal untuk mama bayar.
Bagaimana keadaan mama di sana?
Apakah mama sudah benar-benar tenang tanpa sakit, tanpa air mata,
tanpa dunia yang kejam pada hati seorang ibu?
Ma,seperti apa aku dulu di dalam kandunganmu?
Apakah aku hanya detak kecil
yang tumbuh di antara lapar dan sabar?
Kata keluarga,susu ibu hamil tak selalu ada,makan pun sering ditunda
demi aku tetap hidup di rahimmu.
Ma,
apakah kau pernah mengusap perutmu
sambil menahan perih karena ngidam yang tak terpenuhi?
Apakah kau pernah menangis diam-diam saat kakimu lelah
dan hatimu lebih lelah lagi?
Aku dengar, ma,
tubuhmu pernah diguncang,
dan aku—yang belum mengenal dunia—
ikut menerima tendangan
dari lelaki yang kau pilih
menjadi suamimu,
menjadi ayah bagiku.
Ma…
mengapa dia?
Apakah cinta membuatmu buta,
atau harapan membuatmu bertahan
meski sakit berkali-kali?
Apakah rasa cintamu padanya
lebih besar daripada aku
yang bahkan belum sempat memanggilmu “Mama”?
Ataukah kau mencintainya
karena kau percaya
suatu hari aku akan punya ayah
meski caranya keliru?
Ma,
aku ingin percaya
bahwa cintamu padaku
tak pernah kalah oleh siapa pun.
Bahwa setiap lapar yang kau tahan
adalah doa,
setiap air mata yang jatuh
adalah perlindungan
agar aku tetap bernapas.
Jika aku lahir dari luka, ma,
aku tahu itu bukan salahmu.
Aku lahir dari perempuan
yang mencintai dengan seluruh dirinya,
meski dunia tidak adil padanya.
Ma,
bagaimana caramu memberiku sebuah nama?
Apakah kau memilihnya di tengah malam saat dunia terlelap
dan hanya doamu yang terjaga?
Apakah kau mengeja huruf demi hurufnya
dengan hati bergetar,
takut namaku terlalu besar
untuk hidup yang mungkin akan keras?
Ma,saat kau menyebut namaku pertama kali,
apakah kau tersenyum,
atau justru menangis
karena berharap nasibku
tak seberat nasibmu?
Apakah namaku kau ambil
dari harapan yang tak sempat kau raih?
apakah itu nama yang bagus?
Aku sering bertanya pada cermin,
pada luka,
pada hidup yang kadang tak ramah.
Jika namaku terasa berat,
aku tahu itu karena ia penuh makna.
Jika namaku sering kupikul sendirian,
mungkin karena kau menitipkan
seluruh cintamu di sana.
Dan jika suatu hari
aku belajar mencintai namaku sendiri,
itu karena aku akhirnya mengerti:
namaku adalah caramu
memelukku untuk selamanya.
Aku membenci suamimu.
Aku membenci lelaki
yang membiarkan aku dan kakak tumbuh
tanpa nafkah,
tanpa pelukan,
tanpa tanggung jawab.
Setiap namanya terdengar,
dadaku seperti diseret ke neraka kecil
yang tak pernah kupilih.
Wajahnya membuatku ingin berteriak,
ingin melempar semua amarahku
ke api yang paling panas.
Ma,
aku bahkan membenci darahku sendiri.
Aku tidak rela
jika yang mengalir di tubuhku
adalah darah lelaki itu.
Ironisnya, Ma…
golongan darahku sama dengannya.
Seakan dunia sedang mengejek lukaku
dengan senyum yang kejam.
Jangan pernah melihat ke bawah ya ma.
Aku mohon.
Karena aku sedang menjadi anak yang brengsek.
Ya ma, aku kembali lagi ke tempat ini.
Tempat yg tidak pernah aku kenal sebelumnya ma.
Pikiran dan hati sesak melihat aktivitas banyak orang yang menurutku ga normal.
Banyak hal aneh
yang dipeluk seolah kebenaran.
Banyak hal suci
yang diinjak tanpa rasa bersalah.
Janji pernikahan dihancurkan
seperti kertas tak berarti.
Tubuh diperdagangkan.
Kesetiaan ditertawakan.
Dan lebih menyakitkan lagi, Ma,
banyak manusia
hidup tanpa hati.
Ma…kadang aku bertanya,
bagaimana jika dulu
aku sempat meminum air susumu?
Mungkin hangatnya masih tinggal
di darah dan napasku.
Mungkin saat ini,engkau yang menggenggam tanganku.
Mungkin dunia terasa lebih lunak.
Aku masih hidup, Ma.
Aku merasa menjadi anak yang tidak pantas dirindukan.
Anak yang terlalu banyak salah.
Kok berantakan sih tulisan nya
rapiin dulu
Ma, sering aku berkata pada Tuhan dalam diam,
“Seandainya aku tak pernah lahir,
mungkin Mama masih di sini,
masih tertawa, masih bernapas di dunia yang sama denganku.”
Bahwa kehadiranku adalah luka,
bahwa hidupku adalah harga yang terlalu mahal untuk mama bayar.
Bagaimana keadaan mama di sana?
Apakah mama sudah benar-benar tenang tanpa sakit, tanpa air mata,
tanpa dunia yang kejam pada hati seorang ibu?
Ma,seperti apa aku dulu di dalam kandunganmu?
Apakah aku hanya detak kecil
yang tumbuh di antara lapar dan sabar?
Kata keluarga,susu ibu hamil tak selalu ada,makan pun sering ditunda
demi aku tetap hidup di rahimmu.
Ma,
apakah kau pernah mengusap perutmu
sambil menahan perih karena ngidam yang tak terpenuhi?
Apakah kau pernah menangis diam-diam saat kakimu lelah
dan hatimu lebih lelah lagi?
Aku dengar, ma,
tubuhmu pernah diguncang,
dan aku—yang belum mengenal dunia—
ikut menerima tendangan
dari lelaki yang kau pilih
menjadi suamimu,
menjadi ayah bagiku.
Ma…
mengapa dia?
Apakah cinta membuatmu buta,
atau harapan membuatmu bertahan
meski sakit berkali-kali?
Apakah rasa cintamu padanya
lebih besar daripada aku
yang bahkan belum sempat memanggilmu “Mama”?
Ataukah kau mencintainya
karena kau percaya
suatu hari aku akan punya ayah
meski caranya keliru?
Ma,
aku ingin percaya
bahwa cintamu padaku
tak pernah kalah oleh siapa pun.
Bahwa setiap lapar yang kau tahan
adalah doa,
setiap air mata yang jatuh
adalah perlindungan
agar aku tetap bernapas.
Jika aku lahir dari luka, ma,
aku tahu itu bukan salahmu.
Aku lahir dari perempuan
yang mencintai dengan seluruh dirinya,
meski dunia tidak adil padanya.
Ma,
bagaimana caramu memberiku sebuah nama?
Apakah kau memilihnya di tengah malam saat dunia terlelap
dan hanya doamu yang terjaga?
Apakah kau mengeja huruf demi hurufnya
dengan hati bergetar,
takut namaku terlalu besar
untuk hidup yang mungkin akan keras?
Ma,saat kau menyebut namaku pertama kali,
apakah kau tersenyum,
atau justru menangis
karena berharap nasibku
tak seberat nasibmu?
Apakah namaku kau ambil
dari harapan yang tak sempat kau raih?
apakah itu nama yang bagus?
Aku sering bertanya pada cermin,
pada luka,
pada hidup yang kadang tak ramah.
Jika namaku terasa berat,
aku tahu itu karena ia penuh makna.
Jika namaku sering kupikul sendirian,
mungkin karena kau menitipkan
seluruh cintamu di sana.
Dan jika suatu hari
aku belajar mencintai namaku sendiri,
itu karena aku akhirnya mengerti:
namaku adalah caramu
memelukku untuk selamanya.
Aku membenci suamimu.
Aku membenci lelaki
yang membiarkan aku dan kakak tumbuh
tanpa nafkah,
tanpa pelukan,
tanpa tanggung jawab.
Setiap namanya terdengar,
dadaku seperti diseret ke neraka kecil
yang tak pernah kupilih.
Wajahnya membuatku ingin berteriak,
ingin melempar semua amarahku
ke api yang paling panas.
Ma,
aku bahkan membenci darahku sendiri.
Aku tidak rela
jika yang mengalir di tubuhku
adalah darah lelaki itu.
Ironisnya, Ma…
golongan darahku sama dengannya.
Seakan dunia sedang mengejek lukaku
dengan senyum yang kejam.
Jangan pernah melihat ke bawah ya ma.
Aku mohon.
Karena aku sedang menjadi anak yang brengsek.
Ya ma, aku kembali lagi ke tempat ini.
Tempat yg tidak pernah aku kenal sebelumnya ma.
Pikiran dan hati sesak melihat aktivitas banyak orang yang menurutku ga normal.
Banyak hal aneh
yang dipeluk seolah kebenaran.
Banyak hal suci
yang diinjak tanpa rasa bersalah.
Janji pernikahan dihancurkan
seperti kertas tak berarti.
Tubuh diperdagangkan.
Kesetiaan ditertawakan.
Dan lebih menyakitkan lagi, Ma,
banyak manusia
hidup tanpa hati.
Ma…kadang aku bertanya,
bagaimana jika dulu
aku sempat meminum air susumu?
Mungkin hangatnya masih tinggal
di darah dan napasku.
Mungkin saat ini,engkau yang menggenggam tanganku.
Mungkin dunia terasa lebih lunak.
Aku masih hidup, Ma.
Aku merasa menjadi anak yang tidak pantas dirindukan.
Anak yang terlalu banyak salah.
Kok berantakan sih tulisan nya
rapiin dulu
Terakhir diubah:














