Sejak musibah keruntuhan lemari dapur (hik hik hik), berbagai peralatan dipindah ke lemari simpan lain. Termasuk juga coffee maker model dripping.
Minggu kemarin sudah ketemu coffee makernya, sayangnya cawannya pecah (hik hik hik).
Cari sana cari sini, akhirnya cawan dari pemasak air listrik. Ya sudah, pakai ini aja untuk menikmati kopi ala dripping.
Tp, kynya lama deh pake listrik. Mendingan didihin air, lalu tuang ke wadah penyaring nya.
Kemudian dimulailah, tak lupa untuk anak nomor dua yg juga penggemar kopi seperti ayahnya.
Hmmm, cara seperti ini masih memberikan kenikmatan aroma kopi dengan kepekatan dan kadar asam yg lebih rendah. Sekarang ketajaman aroma Aceh Gayo sedikit berkurang dan jadi bersahabat dengan lambung saia yg over reacted.
Tentunya ditemani gula aren, kapolaga dan daun pandan.
All praised be to you The Mercifull, The Most Benevolent
