Pasang iklan, hanya lewat Contact Us.

Berasa gak sih ekonomi lagi suram?

2025 ekonomi indonesia tdk baik baik saja. Dimulai dengan adanya ppn 12% yg imbasnya ga cuma kelas atas. Daya beli masyarakat yg turun, ditambah ancaman inflasi 6-8 %.
 
Bener. Dagang pun lesu. Entah dari mana daya beli menurun yang pasti salah satunya jdol. Dlu dagang nyari bersih sehari 100-150 sehari gampang. Skrg bisa buat muter beli bahan dasar aja alhamdulillah.
 
2025 ekonomi indonesia tdk baik baik saja. Dimulai dengan adanya ppn 12% yg imbasnya ga cuma kelas atas. Daya beli masyarakat yg turun, ditambah ancaman inflasi 6-8 %.
Betul Hu, kejelian pengambil kebijakan juga andil dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Kalo dilihat dari angka makro, semisal suku bunga BI, prosentase pengangguran, laju inflasi dan currency, memang bisa dianggap tidak baik. Namun bukan berarti ekonomi mati gaya.

Kadang negara lebih suka ambil langkah taktis yang cuma sesaat memberikan dampak sosial. Tapi tidak menyentuh masalah dasar. Macam Operasi Pasar Sembako dan BLT. Meski dibilang bagian solusi tapi ga ngakar. Kan bujet negara akan dipakai terus.

Nilai kompetitif industri hulu kita dianggap ga bagus, soalnya terlalu banyak birokrasi. Banyak pungutan yang bikin pengusaha/pebisnis agak malas investasi atau pengembangan skala usaha. Ada juga lebih suka caplok perusahaan sakit yang notabenenya itu adalah langkah efisien. Bisnis kan mendorong uang ngucur, pegawai baru, peralatan dan perlengkapan baru. Kalo penyehatan bisnis namanya perampingan.

Sekedar sharing Hu...
 
Bener. Dagang pun lesu. Entah dari mana daya beli menurun yang pasti salah satunya jdol. Dlu dagang nyari bersih sehari 100-150 sehari gampang. Skrg bisa buat muter beli bahan dasar aja alhamdulillah.
Setubuh Hu...

Kelas menengah kita udah berkurang populasinya. Kelas ini kan yang doyan belanja barang bagus harga miring.

Sedangkan kelas mapan malah belanja sesuai kebutuhan, frekuensinya minim. Memang meski sekali belanja bisa belasan juta tapi berapa populasinya? Bahkan mereka lebih suka belanja di LN kan. Ada unsur entertainment dan vacation yang memanjakan mereka. Padahal kalo mereka belanja di DN bisa "bantu" Ekonomi Kelas Medioker.

Sekedar sharing Hu...
 
Daya beli kelas menengah turun drastis. Kebijakan Jokowi mengenai efisiensi negara salah satunya pengurangan rekrutmen ASN dan BUMN mengurangi pembukaan lapangan kerja formal sehingga kelas menengah jumlah turun tapi biaya hidup naik gaji ASN dan BUMN yg tidak selalu naik membuat daya beli juga berkurang. Swasta juga sama karena perang dagang sama trump periode 1 dan proteknisme AS dan Eropa membuat ekspor Indonesia berkurang jadi pengusaha berhati2 kasih gaji ke karyawan otomatis seluruh karyawan berhemat dengan belanja seperlunya aja.
 
Bener bro, semua negara lagi merasakan..
invest emas bro..jgn ditabungan, nilai rupiah nanti makin ga ada harganya (katanya begitu)
 
6 bulan terakhir yang stabil pendapatan nya ya ASN, TNI dan Polri, ditambah karyawan tetap BUMN dan BUMD.

Bagaimana dengan karyawan tetap perusahaan swasta?
Mereka yang bekerja di perusahaan berstatus Tbk saja tidak luput dari efisiensi. Banyak faktor tentunya. Tapi memang tidak signifikan efeknya ke perubahan ekonomi secara nasional.

Kalangan profesional juga termasuk stabil. Tapi mereka kan bukan kelas pekerja. Ga cocok. Mereka adalah orang-orang yang punya keahlian tertentu, berlisensi. Keluhan mereka biasanya soal iuran atau pungutan ini itu untuk memperpanjang lisensi mereka.

Any comment?
More discussion and share opinion lah ya.....
 
Masih menunggu isu2 l
6 bulan terakhir yang stabil pendapatan nya ya ASN, TNI dan Polri, ditambah karyawan tetap BUMN dan BUMD.

Bagaimana dengan karyawan tetap perusahaan swasta?
Mereka yang bekerja di perusahaan berstatus Tbk saja tidak luput dari efisiensi. Banyak faktor tentunya. Tapi memang tidak signifikan efeknya ke perubahan ekonomi secara nasional.

Kalangan profesional juga termasuk stabil. Tapi mereka kan bukan kelas pekerja. Ga cocok. Mereka adalah orang-orang yang punya keahlian tertentu, berlisensi. Keluhan mereka biasanya soal iuran atau pungutan ini itu untuk memperpanjang lisensi mereka.

Any comment?
More discussion and share opinion lah ya.....

Sedang menantikan isu apa lagi yang mau keluar hu. Bikin sentimen positif apa negatif ini
 
Saya kuatir gaya sosialisasi kebijakan pemerintah now masih pakai buzzer alias influencer, dimana semua platform sosial media dengan operator dan admin beraneka isi kepala dan latar pendidikan ini masih dipakai. Makanya banyak kebijakan yang mungkin di satu sisi memberatkan tapi disisi lain memberi manfaat.

Atau kebijakan yang salah visi karena input sesat akibat info arus bawahnya mengandalkan buzzer ini.

Namun overall memang banyak hal yang merugikan publik pada akhirnya...
 
Hu, kayaknya isu soal media, liputan dan penyiaran bakalan hangat menuju UU POLRI. Gimana kira2 hu?
 
Setubuh Hu...

Kelas menengah kita udah berkurang populasinya. Kelas ini kan yang doyan belanja barang bagus harga miring.

Sedangkan kelas mapan malah belanja sesuai kebutuhan, frekuensinya minim. Memang meski sekali belanja bisa belasan juta tapi berapa populasinya? Bahkan mereka lebih suka belanja di LN kan. Ada unsur entertainment dan vacation yang memanjakan mereka. Padahal kalo mereka belanja di DN bisa "bantu" Ekonomi Kelas Medioker.

Sekedar sharing Hu...
Bener jg kata om. Sebenernya yg gerakin ekonomi itu kelas menengah. Bukan kelas atas. Kelas menengah ada dhit buat jajan, jalan2, kulineran, insaalloh ekonomi muter. Tapi kalo kelas menengah buat bayar cicilan aja mumet, kebutuhan hidup cekak, gimana bisa muterin ekonomi yg lain?

Sempet ngobrol2 ama abang go car yg notabene beliau korban phk, analisa beiau jaman SBY itu memanjakan kelas menengah, makanya ekonomi muter. Jaman Jokowi memanjakan kelas atas, tax amnesty dll, dgn niat bagus agar mau berinvestasi. Tapi yg namanya kelas atas, kyk om bilabg mrk belanja di luar negeri gak akan herakin ekonomi lokal. Alhasil ketika Jokowi mau manjain kelas menengah kondisi udah telat, akhirnya cuna bisa kasig bansos.
 
Sambil piket malam di pergudangan ogut curahkan isi kepala di sini...

Pemerintahan baru ini kan masih berjalan tersendat. Baru dilantik 20 Oktober 2024 lalu sudah setumpuk PR makro yang mesti kelar setidaknya dalam setahun. Indikator pentingnya adalah stabilisasi ekonomi akhir tahun 2024 dan Lebaran 2025.

Kenapa jadi indikator? Sebab, pergerakan uang dan jasa yang berputar riil hanya ada pada dua momen besar itu. Salah satu acuan pentingnya adalah tekanan inflasi. Paling dirasakan seluruh masyarakat ya ketika Terima upah dan pendapatan, mendorong belanja kebutuhan penting tercukupi dengan jangkauan isi dompet masing-masing. Lagi-lagi yang ditekankan adalah kelas menengah...

Bukan kelas bawah yang masih berharap banyak fasilitas dan kemudahan dari Negara... Semisal Bansos, Santunan ZiS dan pemberdayaan wakaf. Bukan pula kelas atas yang malah ikut atur gimana bisnis mereka tetap ajeg, harta mereka ga kurang dan status sosial mereka tetap diatas.

Instrumen penekan inflasi salah satunya adalah kendali harga, kendali pasokan dan kendali tata-niaga. Ketiga masalah ini dari jaman Orde Baru juga selalu solusi jalan buntu. Sebab kelas atas yang paling atas ikut atur. Prinsip mereka, analisa daya beli dan trigger gaya hidup, sampai batas mereka masih sanggup bertahan. TAPI kita (kelas atasnya atas) masih bisa hidup enak.

Back to ketiga masalah itu... Negara hanya bisa kasih subsidi bukan pengaturan dan proteksi sumber daya asalnya. Sedangkan subsidi ini setiap era selalu bolong dan bocor. Cape' kan bedahnya.

Orang awam taunya kan simpel, gaji gue cukup untuk sandang, pangan dan papan keluarga. Kalo ga terpenuhi ya kategori miskin. Selagi ketiga hal pokok tadi masih bisa diserap oleh 65% seluruh penduduk Indonesia, maka ekonomi negara dianggap stabil. Subsidi yang bolong dan bocor tadi, diharapkan bisa diterima oleh penduduk 65% itu.

Trigger gaya hidup itu seperti pinjol, judol, online activity, yang diatur dan disetting sedemikian rupa oleh kelompok atasnya atas agar kehidupan kelas menengah kita masih wajar dan normal.

Berhubung hampir sebagian besar kebijakan Negara meleset dari target dan kurang mendalam nya analisa strategis dari makro-mikro ekonomi, maka kita alami kini yang namanya "lesu ekonomi"

Kurang lebih nya seperti itu ya uraian ogut...
 
Bener bro, semua negara lagi merasakan..
invest emas bro..jgn ditabungan, nilai rupiah nanti makin ga ada harganya (katanya begitu)
mohon maaf
oot
tolong bisikin judul dari dp hu?
sekali lagi mohon maaf

-----

nubitol ijin nyimak
banyak ilmu nih bertebaran

-----

terima kasih hu
🙏🏻
 
izin bertanya hu
kalau boleh tahu apakah di antara suhu ada yang bekerja sebagai driver dari haus!, kopi jago, dan hanja?
notabene mereka menjual minuman secara keliling
andaikata di antara suhu ada yang bekerja sebagai salah satu driver itu
barangkali tolong paparkan omzet entah per hari, minggu, atau bulan begitu

-----

maaf
pertanyaan di atas terbilang kureng
 
Iya hu, malahan orang terdekat nubi malah saranin duit tabungan buat beli emas atau dollar aja dulu 😔
 
Gaple Online Indonesia
Pasang iklan hanya lewat CONTACT US
Back
Top
We are now part of LS Media Ltd